Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensil (Part I)


Sumber : mbah google

Dea dan Serutan Pensil 

Sore ini. Kurapikan berkas rapat di meja kerjaku. Otak kecilku, masih mengingat peristiwa tadi pagi. Angin besar seperti puting beliung tiba-tiba menghantam meja Saturnus. Saturnus menghilang! Angin itu membawanya ke dalam serutan pensil berbentuk beruang putih di atas mejanya. Semua orang hanya terdiam melihat kejadian itu.

“Saturnus hilang,” ucap staf keuangan sambil memelukku erat. Seisi kantor panik. Ada yang mencoba mengetuk serutannya. Bahkan ada yang teriak minta tolong dan panik. Pihak kantor, segera menelpon polisi. Kini, di depan meja Saturnus dipasang garis polisi.

“Bagaimana mungkin pak. Manusia bisa masuk ke dalam serutan pensil yang kecil ini?” kata seorang polisi yang mengolah TKP tadi pagi. Polisi itu, sempet tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya, dia juga ikut terhisap ke dalam serutan pensil itu.

Hai Fi, belum pulang?,” 

“Belum Dea, duluan aja,” kataku. Dea adalah karyawan baru. Dia diterima dikantor, berbarengan dengan Saturnus sebagai animator di kantorku. Tapi, dia bukan seorang animator. Dea seorang staf admin. Dia sangat cepat beradaptasi di lingkungan kantor. Dia sangat ramah. Semua orang menyukainya. Kecuali Endek, teman satu divisi denganku. Endek selalu bilang kepadaku, kalau Dea bukanlah manusia. Tapi, dia adalah seorang peri dari negeri Sentraland. Dea adalah kelompok bangsa peri yang jahat. Endek, memang suka membaca cerita fiksi bergenre fantasi. Terkadang, dia juga menyebut ibu Clara, bosku. Sebagai tukang sihir. Ibu Clara memang galak. Apalagi, ketika tugas kantor yang dia berikan tak kunjung selesai tepat waktu. Maka, dia akan mengomel tiada henti. Dan Endek, salah satu karyawan yang sering disemprot karena selalu salah memberikan hasil kerjanya.

Masih kuingat pesan Endek pagi tadi. “Ingat Fi, jangan sekali-kali kau pulang bersama Dea. Jika kau tidak mau hilang seperti Saturnus!” Aku sempat menertawakan Endek yang begitu curiga kepada Dea. 

Sampai akhirnya. Apa yang aku lihat mematahkan tawaku pagi ini. Aku melihat sosok yang kukenal sangat berbeda. Apa benar dia bukan manusia? Apa benar yang Endek katakan?


“Ndek…ndek… dimana kamu? Kamu masih di kantor?” 

Aku segera mengirim pesan singkat kepada Endek. Ayo Endek, dibaca. Aku ingin memperlihatkan apa yang aku tangkap dari kamera hpku tadi pagi. 

“Klik” terdengar suara pesan masuk ke hpku.

“Aku masih di ruangan ibu Clara.” 

Hampir 1 jam aku menunggu di ruangan kantor. Aku menunggu dengan gelisah. Endek tak kunjung datang. Setiap aku mengirim pesan singkat. Endek selalu bilang, dia masih di ruangan ibu Clara.

“Klik,” terdengar pesan masuk berbunyi.

“Fi, aku sudah pulang bersama ibu Clara. Tadi, ibu Clara memintaku untuk mengambil berkas penting di rumahnya. Sepulang dari rumah ibu Clara. Aku akan ke rumahmu,”

“Apa? Endek pergi bersama ibu Clara? Menyebalkan! Baiklah, aku akan menunggunya di rumah.” Gerutuku.

Bersambung

Iklan

Fiksi Mae Rose : Cerbung


Bagi pembaca setia blog catatanmae. Setiap hari Senin, saya akan mencoba posting cerita bersambung (cerbung) yang berjudul SERUTAN PENSIL. Jika sudah membaca ceritanya. Boleh loh, dikritik cerbungnya. Karena tanpa kritikan dari kalian para pembaca setia. Apalah arti blog ini. Terutama Fiksinya. 

Ok, selamat membaca. Semoga suka ceritanya. 
Salam
Mae Rose ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensilย 


image

Sumber : google.com

Sampah sisa serutan pensil masih bertebaran di atas meja. Tangannya masih asik menggambar sesuatu. Penghapus yang hampir habis dipegang erat dengan tangan kiri. Jangan ditanya, dimana letak wajahnya. Wajahnya hampir mencium kertas, sedikit lagi. Mungkin tinggal satu centi wajahnya menyentuh kertas.

Saturnus, orang-orang memanggilnya. Dia ahli dalam bidang animasi. Salah satu karyanya pernah memenangkan penghargaan internasional. Yang aku heran, hanya satu. Dia tak pernah berbicara dengan siapapun. Ketika ditanya, dia akan melengkungkan jari telunjuk dan jempolnya. Begitupun jika ditanya hal lain. Hanya senyuman dan bahu yang mengangkat. Mungkin, karena dia sibuk dengan gambar yang dibuatnya, sehingga dia seperti itu.

Aku sudah lama memperhatikan Saturnus. Ruanganku memang berbeda. Hanya saja, kaca transparan dan posisi mejaku yang menghadap mejanya. Membuatku leluasa melihat wajahnya yang kurus dan lonjong. Dengan kacamata minus yang menempel dihidung, menambah daya tarik seorang laki-laki bernama Saturnus itu meningkat.

***

Satu tahun sudah berlalu. Tapi sisa serutan pensil itu masih ada di atas meja. Setiapku keluar dari ruangan. Aku seperti melihatnya. Senyuman yang manis itu terkadang masih kurasakan sampai saat ini. Sampai sesuatu menyadarkanku. Bahwa senyuman itu telah pergi, bersama kertas-kertas yang tersedot hebat ke dalam lubang bernama serutan pensil.

Bersambung

Fiksi Mae Rose : Lupa Ingatan


Sumber foto : viz.com

“Pukulan Halilintar” suara keras meniru adegan salah satu film superhero, mulai terdengar lagi. Tetangga sebelah rumah, memang selalu berisik. Apalagi jika mulai malam. Semua tetangga memakluminya.

Masih kuingat jelas, 2 hari lalu. Sebuah truk besar menghantam rumahnya. Setengah rumahnya, hancur tak berbentuk. Anak pemilik rumah, bernama Tarno. Selamat tanpa luka. Hanya kepalanya yang terbentur spion mobil. Tarno, buru-buru dilarikan ke rumah sakit. Yang kudengar, Tarno gegar otak ringan.

“Eh, mbak Ayu. Mau kemana mbak?” Tiba-tiba, wajah Tarno sudah di depan mukaku. Sontak, aku kaget. Lalu kudorong tubuhnya yang kurus. Sampai terlempar dan terjungkal di tanah.

“Ciaaat,” Tarno berdiri dengan cepat. 

“Kamu mau melawanku Sashuke?” Tarno membentakku dengan suara keras.

“Terima pembalasanku,” belum sempat kaki Tarno mendarat di mukaku. Tangan ibu Tarno, lebih dulu menempel muka Tarno. 

“Lari… Ada raja api penyerang,” teriak Tarno, sambil berlari masuk rumah.

“Maafin ya mbak. Semenjak kecelakaan itu. Tarno bertingkah aneh. Dia berpikir kalau dia Naruto. Kata dokter, dia terkena amnesia akut. Dia lupa, kalau dia manusia. Bukan tokoh kartun”.

Fiksi Mae Rose : #FFKamis – Makanan Beracun


Foto : tribunnews.com

Pagi ini, cuaca sangat dingin. Mataku masih sangat mengantuk. Kuperhatikan kakakku. Dia masih tertidur pulas. Aku masih takut untuk melanjutkan tidurku. Aku takut disiram air.

“Tidur lagi dek, matahari belum terlihat” kata kakakku.

“Enggak mau kak. Kemarin saja, kita disiram air dingin. Kakak ingatkan? Waktu itu, belum pagi. Aku tak mau disiram air lagi.” 

Tiba-tiba, kudengar suara piring yang dipukul. Piring yang berisi makanan enak. Kubangunkan kakakku. Kami berdua langsung berlari ke arah sumber suara. 

“Enak kak, ada daging ayam,” 

“Muntahkan dek, muntahkan!” Kulihat kakakku sudah terkapar dengan mulut berbusa. Dadaku tiba-tiba sesak.

“Joko, anjingnya sudah mati. Buang ke hutan”.

Fiksi Mae Rose : #FFKamis – Patung Gajah


Foto : aliexpressdotcon

Ibu, jangan cari aku. Nanti aku akan pulang.

Sepagi ini, ibu sudah marah-marah. Adikku Intan, menghilang sebelum pagi menjelang.

“Lihat kelakuan adikmu ini. Sudah ibu bilang berulang kali. Buang saja, patung pacarnya itu. Tapi, lihat yang dia lakukan.”

“Ibuuuuu,” teriak Intan dari teras. Gelas kopi ibu, hampir terlempar ke arahku.

“Ibu, kenapa patung gajahnya ibu ganti batu bata. Patung gajah itu bernilai miliaran rupiah. Patung itu, mau aku jual bu” kata Intan sambil menghapus air matanya. Ibu yang mendengar perkataan Intan. Buru-buru pergi ke kamar mandi.

“Untung masih ada. Tan, nih patungnya. Kemarin ibu pinjam buat nyumbat kloset yang meluber”.

Fiksi Mae Rose : #FFKamis – Petaka Sebuah Cermin


Foto : google.com

Hal yang paling indah itu. Ketika aku sampai di rumah. Aku akan langsung berdiri, mematung diri. Di depan benda yang bisa memantulkan segalanya. Ya, benda tipis berukuran besar yang sering aku sebut cermin ajaib. Membuatku menjadi cantik. Tapi, hari ini. Aku sedikit kecewa. Benda itu tak berada di kamarku. 

“Ibuuuuuu,” teriakku. Kemana orang-orang di rumah ini. Aku mencari keseluruh penjuru rumah. Tak satupun yang menyahut. Ah, kemana mereka. 

“Auu”. Kakiku menginjak benda tajam. Kulihat pecahan kaca di lantai. Kuikuti serpihan kecil kaca yang tercecer di lantai. Betapa terkejutnya aku. Seorang polisi sedang mencoba mengeluarkan kepalaku yang masuk ke dalam cermin.