Cerita Mae Rose · Cerpen · Fiksi · Menulis Absurd

Fiksi Mae Rose : Cerpen – Cerita Sari


sumber : googleCerita Sari

Cerita Sari

By. ROSA LINDA

Tatapan matanya kosong. Sari, duduk bersila di dekat pintu garasi. Sari, mulai memainkan mulutnya. Kepulan asap mulai keluar dari mulutnya yang mungil. Sesekali, terdengar Sari berbicara, seolah ada lawan bicara.

“Nah, kau tengok itu. Sari mulai berbicara sendiri. Emak sudah bilang, bawa adikmu berobat,”

“Tapi, Mak. Sari sehat. Mungkin, dia lagi melepas beban saja di kepalanya.”

Emak dan kakak Sari berbicara sangat pelan. Sari, mulai menunjukkan gelagat aneh sekitar 2 mingguan. Berbicara sendiri, terkadang ketakutan melihat orang yang datang ke rumah. Sari seperti orang normal. Ditanya, akan dijawab dengan benar. Diajak ngobrolpun masih bisa. Sari, sering melamun di garasi.

Sari wanita kuat, tak pernah patah semangat. Jika dia tidak terlalu lelah, setiap pulang kerja, Sari selalu membantu kakaknya berjualan nasi goreng. Sampai akhirnya, lebih tepatnya dua minggu yang lalu, Sari berubah menjadi pemurung, bahkan terlihat aut-autan.

***

“Assalamualaikum,” terdengar suara Sari mengucap salam.

“Udah pulang Sar?” Tanya kakaknya. Sari hanya terdiam membisu, kemudian masuk kamar.

“Sari kenapa?” Tanya Emak.

“Enggak tahu Mak, mungkin kecapean. Saya berangkat dulu, doain hari ini laris manis,” kakak Sari mendorong gerobaknya perlahan. Dia masih melihat pintu kamar Sari yang tertutup rapat. Tak biasanya Sari bertingkah seperti itu.

“Sari belum keluar kamar, Mak?” Tanya kakaknya.

“Kok pulang lagi? Ada yang tertinggal?”

“Tas kecilku tertinggal. Tasnya di kamar Sari.”

“Sar, buka Sar. Abang, mau ambil tas kecil,” beberapa kali kakak Sari memanggil, tidak ada jawaban sama sekali. Kakak Sari menggedor pintu sangat kencang, tetap tidak ada respon. Kakak Sari, berusaha melihat dari lubang kunci.

“Astaghfiruallah,” pintu kamar didobrak paksa. Kakak Sari, dengan cepat mengambil kursi. Dia menahan tubuh Sari yang tergantung di tiang kamar, dengan sigap, dia membawa tubuh Sari ke klinik di dekat rumah.

Sesampai di rumah, Sari tampak seperti orang linglung, dia menangis sambil mengapit kedua kakinya, kemudian tertidur di ranjangnya.

“Sari kenapa? Apa dia baik-baik saja?” tanya Ibu Sari.

“Saya juga ga tahu Bu, dokter hanya kasih obat penenang saja. Tadi, kata dokter, mungkin Sari stess. Nanti kalau sudah tenang, disuruh bawa ke rumah sakit. Ini surat rujukannya,”

****

“Sari Maulida,” suara suster memanggil nama Sari lembut. Kakak Sari menuntun tangan Sari. Mereka berdua memasuki sebuah ruangan. Tampak di luar ruangan tertulis Irma Sugesti, psikater. Satu jam lebih, mereka berada di ruang itu.

“Bisa kita bicara sebentar Pak?” Kata dokter itu.

“Mendengar cerita adek Bapak tadi, saya rasa adek Bapak terkena Gangguan stres pascatrauma atau PTSD. PTSD ini dapat berkembang setelah seseorang mengalami kejadian traumatis atau mengerikan, seperti pelecehan seksual atau fisik, kematian tak terduga dari orang yang dicintai, atau bencana alam. Pikiran atau kenangan yang tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang. Saran saya, Bapak cari tahu secara mendalam mengenai masalah adek Bapak. Mungkin, bisa cari tahu sebab musababnya dengan teman kantornya. Ini saya resepkan beberapa obat, cepet sehat ya Pak adeknya,” kakak Sari mengangguk tanda mengerti.

Siapa yang melakukan ini Sari!

Setelah mengantar Sari, kakak Sari, segera ke kantor. Dia harus segera bertemu Maya, teman kantor Sari.

“Maaf Pak. Maya enggak kerja di sini lagi,” kata satpam kantor.

Kakak Sari tampak bingung, di mana harus menemukan Maya. Tiba-tiba, ada seorang pria memanggil kakak Sari.

“Kakaknya Sari?” Tanya pria berbaju rapi itu. Kakak Sari memandangi pria itu, kemudian mengangguk pelan.

“Bisa, ngobrol sebentar?” Tanyanya lagi. Kemudian mereka berdua masuk ke ruangan kantor. Pria itu, memberikan amplop tebal dan sebuah surat. Hanya beberapa patah kata yang diucapkannya. Pria itu bilang, Sari pegawai berprestasi, memiliki dedikasi tinggi terhadap perusahaan. Untuk itulah, pihak perusahaan memberikan uang pesangon karena Sari mengundurkan diri.

“Terimakasih Pak, sudah menyempatkan diri ke sini. Tapi, maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harus segera kembali ke kantor pusat. Saya hanya perwakilan sementara, yang di tugaskan di kantor ini,” kakak Sari terpaku melihat amplop di tangannya. Pria itu melambaikan tangan, kemudian pergi dengan mobil mewah. Dari jauh terlihat seorang pria berusaha mengejar mobil itu. Kakak Sari, seperti mengenalinya.

“Yok,” teriak kakak Sari. Yoyok, adalah pacar Maya. Yoyok, tidak mengindahkan panggilan kakak Sari. Yoyok berusaha mengejar mobil itu dengan motornya.

“Bedebah,” teriak Yoyok.

“Yok,” kakak Sari berusaha memanggil pacar Maya.

“Yok, antar abang ke rumah Maya,” kata kakak Sari.

Yoyok memandang wajah kakak Sari lekat, kemudian membawa kakak Sari ke sebuah tempat.

“Maya udah enggak ada lagi bang. Maya, gantung diri. Maya diperkosa sama bosnya waktu pulang dari kantor dua minggu lalu, saya tadi ngejar laki-laki yang melindungi pelakunya. Saya dengar, dia bebas. Saya enggak terima bang. Dia masih bebas. Kalau ketemu, bakal saya bunuh dia,” kakak Sari terduduk lemas, di pinggir kuburan Maya.

Jadi, Sari diperkosa? Pantas saja, Sari ingin mengakhiri hidupnya. Amplop ini? Seharusnya, tak kutrima uang ini.

Kakak Sari menutup mukanya, pikirannya kacau balau. Dia tak menyangka, adiknya korban kekerasan sexsual.

“Yok, kamu tahukan dimana rumah bos bejat itu?” Yoyok mengangguk cepat.

“Anterin abang kesana. Kita bikin dia menyesal telah hidup di dunia”.

Tamat

Cileunyi, 08 Oktober 2019.

#FFKamis · cerbung · Cerpen · FF · Fiksi · Menulis Absurd

Fiksi Mae Rose : Cermin – Kabut Asap


Semua jalan tertutup kabut. Hanya cahaya dari lampu motor dan mobil yang kelihatan.

“Pagi ini, kabut asap menyelimuti kota. Harap berhati-hati, jaga jarak pandang anda” terdengar suara pembawa berita mengingatkan cuaca hari ini.

“Lagi-lagi asap. Mengapa harus asap lagi. Menyebalkan!” Gerutuku di dalam hati.

Ayah dan ibu, sudah berangkat sejak matahari belum menampakkan hidungnya. Begitu juga adikku. Dia paling suka bangun pagi dan selalu menghilang entah kemana. Sedangkan aku, jangan kau tanya. Aku malas bangun pagi. Semua terasa dingin di pagi hari. Tapi, pagi ini dengan cuaca yang semakin berkabut. Kurasa bangun pagi, tak perlu ku lakukan. Biarlah hari ini aku di rumah saja.

Cemilan di atas meja sudah habis kumakan. Tak ada yang tersisa. Perutku sudah menggembung. Kurasa perutku seperti ingin meledak.

“Ya ampun, Muk. Lihat badanmu. Apa yang kamu makan? Sudah ibu bilang, jangan terlalu banyak makan. Nanti badanmu gemuk. Dan sekarang, kau tak bisa bergerak,” ibu selalu mengomel jika melihat perutku menjadi buncit.

“Ingat, besok kau harus bangun sepagi mungkin. Kita akan pindah. Ayah dan ibu sudah menemukan tempat yang bagus dan nyaman. Ingat, sepagi mungkin Muk,” teriak ibu dari kamarnya.

“Iya ibu,” jawabku sekenanya. Ini adalah rutinitas yang setiap bulan kami jalani. Ayah dan ibu suka sekali pindah. Aku tak mengerti mengapa harus selalu pindah rumah. Aku sudah nyaman disini. Semua keperluan sangat mudah kudapat. Apalagi soal makanan. Sangat mudah kutemui.

“Ayah, mengapa kita harus pindah? Tempat ini sangat indah dan menyenangkan,”protesku kepada ayah. Ayah hanya tersenyum.

“Ini tradisi turun temurun nak. Bangsa kita, sudah biasa melakukan ini. Dan bangsa kita, sangat senang berpindah-pindah. Dengan berpindah tempat. Kita akan memiliki keturunan yang banyak” kata ayah kemudian.

“Jika aku tak mau pindah?” Kataku kemudian.

“Kau tidak akan mampu bertahan disini nak. Disini sudah banyak kabut asap. Kita tak bisa menghirupnya setiap hari. Kau lihat warga di kampung sebelah? Yang meninggal kemaren! Yang Ayah tahu, dia bertahan dengan kabut asap. Bulan pertama dia bisa melewatinya, tapi masuk bulan ke 2 dia mulai sakit-sakitan. Dan kau tahu, bagaimana kondisinya? Dia sekarat. Dan salah satu penyebabnya, karena dia tak mau mengikuti keluarganya pindah. Besok, kabut asap akan semakin tebal. Ayah hanya ingin kau selamat,” kulihat wajah ayah berharap aku ikut serta.

Ah, itu hanya asap. Kemarin aku menghirupnya, saat aku mencari makanan. Kondisiku sekarang baik-baik saja. Badanku tak seperti tetanggaku yang mati kemarin. Mungkin itu akal-akalan ayah, supaya aku ikut dengannya. Padahal aku sudah nyaman disini. Ditambah, aku punya kenalan baru. Rumahnya tak begitu jauh dari sini. Aku senang bermain dengannya. Dia bilang, dia baru pindah dari Amazon. Semua keluarganya ikut serta kesini. Dia pria yang cukup tampan menurutku. Baiklah, saatnya aku tidur, besok aku akan bertemu dengannya.

Keesokan Paginya

“Sudahlah yah, kita harus merelakan Mukmuk. Dia tidak mendengarkan kita. Kita harus cepat pergi dari sini. Kabut Asap itu membuatku pusing yah. Relakan Mukmuk. Kita tak bisa menolongnya. Asap itu terlalu tebal,” kata ibu Mumuk sedih. Sambil menarik badan suaminya, ibu Mumuk menjauh dari kabut asap itu.

“Bremmm…bremmmm,” suara raungan alat penyemprot nyamuk itu, memecahkan keheningan pagi. Semua yang dilaluinya berkabut tebal.

Sayup terdengar suara teriakan Mumuk menghilang bersama matinya nyamuk-nyamuk disekitar selokan.

Titimangsa : Cileunyi, 17 September 2018

Fiksi · Menulis Absurd

Fiksi Mae Rose : Cerpen – Ingatan Masa Lalu


Musim telah berganti. Daun-daun mulai berguguran. Hawa dingin menjadi panas. Kopi susu yang biasa kuseruput. Berubah menjadi teh hangat.

Pagi ini, untuk kesekian kalinya. Kudengar ibu dan ayah bertengkar lagi. Yang mereka ributkan itu-itu saja. Tentang ayah, yang tak mau mencari pekerjaan tetap. Ayahku seorang penulis. Penghasilan yang ia dapatkan tak begitu besar. Sekedar cukup 2 atau 3 hari untuk mengganjal lambung kami yang besar.

“Rina, ini teh hangatmu. Kopi dan susu habis. Jadi, teh hangat dulu, untuk menemani sarapanmu pagi ini!”

Ibu, sosok pekerja keras. Dia tak pernah meminta bantuan siapapun. Baginya, meminta bantuan itu seperti seorang pengemis yang badannya sehat tapi tidak mau bekerja.

Pernah suatu hari. Pamanku yang tinggal di Bogor. Membantunya agar punya warung di depan rumah. Agar , ibu tak lagi menjadi pengasuh lansia. Tapi, ibu menolaknya. Dengan alasan, ibu teramat menyukai pekerjaannya.

Kuseruput teh hangat buatan ibu dan sepotong pisang goreng yang mulai dingin. Sesekali, aku lihat wajah ayah yang diomelin ibu. Lagi-lagi, dia hanya tersenyum. Kemudian, berdiri dari tempat duduknya. Mengecup kening ibu. Sambil berkata dan diikuti senyum manis ibu.

“Sayang, doakan. Hari ini aku diterima jadi seorang editor disebuah penerbit”.

Ku lihat ayah mulai memakai sepatu dan jaket tebalnya. Kemudian tak berapa lama, menghilang dibalik pintu. Begitu setiap hari. Jika Ayah sudah pergi, suara omelan ibu akan berhenti dengan sendirinya.

Pernah suatu hari, aku diam-diam mengikuti ayah. Ketika suatu pagi, kulihat ayah berpakaian rapi dan berdasi. Ayah membawa setumpuk map tebal. Kenyatanya, ayah bukan melamar pekerjaan. Melainkan, kebiasaan rutin mengirim tulisannya di koran dan majalah. Setelah itu, ayah akan berjalan-jalan di sebuah taman kota. Duduk disudut taman. Mengeluarkan laptop dan mulai memandang benda kesayangannya.

“Ayahmu, bukan melamar pekerjaan. Melainkan bersemedi di taman kota,” kata ibuku pagi ini. Aku hanya tersenyum mendengar cerita ibu. Kukira ibu tak mengetahui kebiasaan ayah yang suka menulis di taman kota.

“Jiwa menulis ayahmu tak bisa dihilangkan. Sampai sekarangpun. Dia masih tetap menulis. Dulu, ayahmu seorang kepala editor sebuah majalah. Dia selalu pulang larut malam. Waktunya dihabiskan di kantor” ibu menghela napas panjang.

“Sampai akhirnya, wanita busuk itu datang. Merusak segalanya. Wanita penggoda yang terobsesi dengan ayahmu. Wanita yang membuat ayahmu dipecat, gara-gara tergoda rayuan manisnya” wajah ibu tiba-tiba berubah drastis.

“Teng…teng…,” suara keras jam kuno itu mengagetkanku.

“Rin, sepulang sekolah. Mampir dulu ke warung pak Cipto. Beli susu dan kopi. Bilang pak Cipto, nanti sore ibu akan melunasi hutang-hutang yang kemarin.”

Selama perjalanan ke sekolah. Otakku, tak mau berhenti bertanya. Siapa wanita itu? Apa hubungannya dengan ayah? Mengapa ibu memanggilnya wanita busuk? Aku akan meminta ibu bercerita tentang wanita itu, agar rasa penasaranku hilang.

Dunia memang sudah gila, setiap aku pergi ke sekolah. Aku selalu melihat pemandangan yang menjijikkan ini. Entah sudah berapa kali aku bertemu wanita ini. Bukan karena aku iri melihat kemesraan mereka di angkutan umum. Melainkan, gaya pacaran mereka yang tak lumrah. Sang wanita berdandan menor. Kutaksir umurnya sama dengan ibuku, 45 tahun. Wanita itu, bergelayut manja ditangan seorang pemuda, berpakaian kantoran. Dari wajahnya, aku yakin umurnya lebih mudah belasan tahun dari wanita sebelahnya. Jika dua pasangan itu turun, seluruh penumpang akan berkomentar miring. Seperti tahu, siapa wanita itu.

“Dia itu wanita penggoda. Perusak rumah tangga orang. Kemarin, tetanggaku, suaminya dipacarin sama dia. Setelah uangnya habis. Wanita itu, pergi entah kemana. Sekarang, malah pacaran dengan yang lebih muda. Kasian cowok itu. Pasti diplorotin,”

“Pssst, kau lihat bajunya Rin?” Tiba-tiba, Vina mendaratkan mulutnya ditelingaku.

Vina adalah teman akrabku di sekolah. Rumah kami tidak begitu jauh. Hanya berbeda beberapa Β blok rumah. Setiap pagi, kami berdua selalu pergi bersama.

“Warna, dan modelnya tak cocok dengan usianya. Lihat keriput dipinggir matanya! Itu menandakan dia sudah berumur. Dan kau lihat, liptiknya tidak cocok dengan warna bajunya yang menyala,” lanjut Vina berbicara tanpa henti. Aku hampir tertawa dibuatnya. Apalagi, ketika wanita itu mulai melotot ke arahnya. Dengan gerak cepat, Vina langsung memainkan benda ajaibnya.

Tapi, aku akui. Apa yang dikatakan Vina, memang benar adanya. Dia terlalu tua untuk baju yang seharusnya dipakai wanita seumurnya. Bajunya yang berwarna merah tanpa lengan dipadu dengan rok mini berwarna kuning. Membuat terkesan norak. Ditambah postur tubuhnya yang tidak seperti wanita muda, membuat lemak dibadannya terlihat bergelambir disana sini. Ditambah liptiknya yang berwarna hitam tebal. Membuat penampilannya benar-benar terlihat sangat norak dan tua.

“Ayo kita turun mas, banyak yang iri dengan kebahagian kita berdua. Kiri pir,” teriak perempuan itu. Wanita itu turun, matanya terus melihat ke arah Vina. Dengan mimik wajah yang tak begitu senang.

“Gila kamu Vin, coba kalau ibu itu marah-marah. Habis kamu,” Vina hanya tertawa mendengar perkataanku.

“Ayo turun, kita sudah sampai di markas” kataku sambil menggandeng tangan Vina turun dari angkot dan masuk ke gerbang sekolah.

***

Kulepas sepatu dan kaos kakiku yang bau terasi. Setiap hari, ketika pulang ke rumah. Aku selalu sendiri. Ibu, seperti biasa akan pulang menjelang magrib. Sedangkan ayah, tak tentu kapan dia akan pulang. Tapi, kali ini. Kelihatannya aku tidak akan sendiri. Kudengar suara gaduh di dalam rumah. Suara ibu yang marah. Bergegas aku masuk ke rumah. Belum sempat kakiku melangkah masuk. Aku ditabrak seorang wanita cantik, berambut pendek yang lari tergopoh-gopoh.

“Belum puas, kau mengganggu kehidupanku. Sekarang, apa maumu Rahma?”

Kedengar suara teriakan ibu. Suara ibu yang biasa lembut, kudengar sedikit meninggi.

“Keluar kau dari rumahku” wanita itu berlari keluar rumah diiringi sebuah ember cucian yang hampir saja mengenaiku. Sekilas kulihat raut wajahnya. Seperti kukenal. Ditengah rumah, ibu terduduk lemas dilantai.

“Bu…” kupegang bahu ibu. Hanya isak tangis yang kudengar.

“Apa itu kopi dan susu yang ibu pesan tadi pagi Rin?” Kata ibu tiba-tiba. Masih dengan isak tangisnya. Ibu berjalan ke dapur sambil menenteng plastik berisi susu dan kopi. Disana, di ruang tamu. Kulihat ayah mematung diri. Ayah terdiam tanpa kata.

“Maafin ayah Rin,” ayah beranjak dari tempat duduknya. Belum sempat aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ayah meninggalkanku yang kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita tadi? Wanita yang ibu lempar dengan ember.

Suasana rumah sore ini, mendadak sunyi. Ibu dan Ayah tak saling bicara. Dari balik pintu kamarku. Kulihat ibu membawa bantal dan selimut menuju ke kamarku.

“Rin, malam ini ibu tidur disini ya?” Kata ibu. Mata ibu masih bengkak akibat menangis tadi. Wajahnyapun masih menyimpan kekesalan. Ibu mulai merapikan tempat tidurku yang sedikit tidak rapi.

“Bu, nanti habis magrib. Aku mau ke warung pak Cipto beli lem. Ibu mau nitip?” Kataku memecah kesunyian.

“Oh iya, ibu lupa. Sekalian bayarin utang Β ibu di pak Cipto ya Rin! Aduh, ibu kok jadi lupa.” Ibu menepuk jidatnya.

Di teras rumah. Kulihat Ayah duduk melamun. Entah apa yang dilamunkannya. Sampai-sampai, ketika Β aku bertanya. Ayah tak menjawabnya.

Malam ini, terasa ada yang kurang. Biasanya, kami bertiga duduk bersama di teras rumah. Apa yang sebenarnya terjadi dengam ayah dan ibu?

“Loh Rin, kok ayah enggak lihat kamu keluar? Dari warung kamu Rin?” Ayah tampak bingung melihatku berdiri dipintu pagar, Β hendak masuk ke halaman rumah.

“Sini Rin, duduk di samping Ayah,” ayah menepuk kursi teras yang terbuat dari kayu.

“Yah, tadi kata pak Cipto. Tadi siang, ayah bayarin utangnya ibu? Kok enggak bilang ke ibu?” Tanyaku kepada Ayah.

“Tadi siang, ayah mau kasih tahu ibumu. Cuma, waktu ayah pulang. Ibumu bertengkar hebat dengan wanita itu. Padahal, ayah bawah kabar gembira buat ibu. Ayah, sudah satu minggu ini, diterima jadi editor di sebuah majalah ternama.”

“Yah, kalau aku boleh tahu. Wanita yang tadi siang itu siapa? Perasaan, aku pernah melihatnya,”

“Ceritanya panjang Rin. Yang jelas, ayah masih menunggu hati ibumu adem dulu. Ayah takut salah ngomong. Ayo kita masuk Rin, udaranya semakin dingin”

***

Pagi ini, hanya aku yang duduk dimeja makan. Hanya ada kopi susu dan roti bulat menemaniku. Omelan ibu tak terdengar, mungkin karena ayah sudah pergi sejak dari shubuh.

“Permisi,” kudengar suara dari teras rumah.

“Biar ibu yang buka. Kamu lanjutkan makan pagimu” kata ibu.

“Ibu Vina. Bisa kita bicara?” Kulihat pria tua berambut putih sedang berbicara dengan ibu. Dia tampak berkali-kali berusaha meyakinkan ibu.

“Pergilah, aku sudah muak mendengar penjelasanmu,” terdengar suara pintu dibanting sangat keras. Diikuti serbuk kotoran di atas langit-langit, jatuh di atas meja makan.

“Ada apa bu?” Kuberanikan diri bertanya kepada ibu.

“Kau tahu, pria itu. Dia suami wanita yang kemarin datang kesini. Setelah sekian lama mengganggu kehidupan ibu. Sekarang mau melakukan hal yang sama. Wanita perusak. Ibu harus meminta keputusan ayahmu. Ayahmu harus memilih. Ibu atau wanita busuk itu,” gelas kopi yang dipegang ibu, mendadak pecah berhamburan ke lantai. Ibu melemparnya ke dinding dengan sangat kencang. Baru kali ini, aku melihat wajah ibu begitu sangat marah. Aku rasa, emosi ibu yang tertahan keluar. Seperti bom hirosihima yang meledak di Jepang. Bum, meledak. Menghancurkan segalanya. Wanita itu, merusak suasana rumah ini. Jika dia kembali lagi, mungkin aku akan mencabik-cabiknya. Seperti aku mencabik roti yang akan kucelup ke kopi susu di depanku.

5 jam sudah berlalu. Ibu tak kunjung datang. Ibu pergi buru-buru setelah melempar gelas tadi. Pecahan beling masih berserakan di lantai ketika ibu pergi. Suasana hati ibu benar-benar panas. Ibu pergi meninggalkanku seorang diri. Tanpa sepatah kata, ibu menghilang tiba-tiba.

“Assalamualaikum.” Tak berapa lama kulihat ibu di depan pintu. Keringat bercucuran dari keningnya. Ibu tampak capai. Kemudian duduk di kursi tamu. Bergegas aku ke dapur, mengambil segelas air.

“Ibu. Ibu kemana saja? Aku menunggu ibu sedari tadi. Ibu tahu, ibu memakai sepatu sekolahku,” kataku sedikit marah.

“Hahahaha,” tiba-tiba ibu tertawa kencang.

“Pantas saja, waktu ibu naik angkot. Semua penumpang tersenyum melihat ibu. Dan ketika ibu sampai di taman kota. Ibu baru menyadari, betapa terasa sakit kaki ibu yang sebelah kiri. Maafkan ibu ya Rin. Hari ini, kamu tidak bisa sekolah. Gara sepatumu terbawa bersama ibu.” Ibu mencari ayah ke taman kota rupanya. Tapi, aku sangat senang. Senyum ibu yang manis terlihat lagi.

***

“Dibakar saja, kita arak keseluruh kampung,” suara ribut terdengar di ujung gang. Orang-orang dari kampung sebelah tampak begitu marah.

“Mencemarkan nama kampung kita saja,” kata seorang ibu-ibu disampingku.

“Emang kenapa gitu bu? Sampai di arak gitu?” Tanya ibu-ibu berpakai daster warna warni.

“Itu, anaknya almarhum ibu Rohaye. Ketahuan mesum sama pacarnya. Digerebek warga lagi gituan,” kata seorang warga.

“Eh, bukannya anaknya ibu Rohaye umurnya udah bangkotan ya? Pacarnya yang berondong itu bukan?” Tanya salah satu ibu-ibu dengan rol rambut di kepala.

Kulihat, pasangan itu diarak setengah berbusana. Wajah sang pria, membiru. Seperti habis dipukul secara membabi buta. Sedangkan perempuan, hanya menutup mukanya karena malu. Sekilas kulihat wajah wanita yang diarak warga. Seperti kukenal.

“Ya ampun, itukan perempuan yang sering aku lihat diangkot.” Gumamku pelan.

“Eh, neng pulang gih. Ga baik, belum nikah lihat yang beginian. Baru pulang sekolah neng?” tiba-tiba seorang ibu-ibu bau kompor menepuk pundakku. Menyuruhku pulang.

“Bu…” teriakku pelan.

“Yah, ibu mana?” Tanyaku kepada Ayah. Kulihat seorang laki-laki yang kemarin datang sedang asik mengobrol dengan ayah.

“Ini, anakmu Gan? Cantik seperti ibunya,” kata pria itu. Sambil tersenyum kearahku.

“Ibu di dapur Rin. Oh iya, jangan lupa. Buatkan kopi untuk bapak Noval,”

“Iya yah,” anggukku cepat.

“Bu, tadi ada wanita yang diarak warga. Katanya sih, ketahuan berbuat mesum gitu. Kasian loh bu, yang pria mukanya bonyok,” ceritaku dengan satu tarikan nafas.

“Rin, bawa kopi ini ke depan. Ibu mau pergi kerja dulu, orang yang ibu asuh, jatuh dari kursi rodanya. Ibu harus segera kesana.”

Dari arah dapur. Aku lihat ibu berpamitan dengan ayah. Ibu juga berpamitan dengan laki-laki yang diusir ibu tadi pagi. Kelihatannya ibu tidak marah lagi dengan pria itu.

“Baik, pak Ganjar. Saya pulang dulu. Sekali lagi, maafkan kelakuan istri saya. Semenjak kecelakaan 2 tahun lalu. Dia selalu menghilang tiba-tiba dari rumah. Dia suka berbicara meracau. Jika dia sadar, dia akan bertaubat atas perbuatannya di masa lalu. Dia bercerita kepada saya, dia merasa bersalah terhadap istri pak Ganjar. Dia ingin minta maaf. Sekali lagi, saya minta maaf atas kelakuan istri saya. Doakan, istri saya bisa sembuh total. Insha Allah, besok saya mau ke Singapur. Disana ada kenalan saya. Yang ahli dalam bidang trapis. Baiklah klo begitu. Saya pamit dulu pak Ganjar,” pria itu pulang dengan menjabat tangan ayah kencang. Ayah hanya memberi senyuman hangatnya ketika pria itu keluar dari pintu.

4 tahun kemudian.

“Yah, aku pergi ke kantor dulu,”

“Tidak pamit sama ibumu?”

“Sudah yah, Rina sudah pamitan. Oh ya, jangan lupa Rin, malam ini ada makan malam bersama pak Noval! Selepas dari kantor, nanti biar ayah dan ibu yang menjemputmu.”

“Iya bu,” jawabku cepat. Sudah 4 tahun berlalu. Sudah 4 tahun pula, ibu bersahabat dengan wanita yang dulu menyukai ayah. Wanita, yang terkena penyakit kejiwaan yang aneh. Terobsesi ingin memiliki segalanya, kemudian menghancurkannya. Beruntung dia bertemu pak Noval. Suaminya yang sabar. Dia, Seorang psikiater yang membimbing istrinya untuk mengenal dirinya kembali. Jika tidak, sampai sekarang dia tetap terobsesi dengan Ayah. Ibu yang mengetahui cerita sebenarnya. Akhirnya memaklumi apa yang terjadi di masa lalu. Apalagi ketika mereka memutuskan menyatukan dua keluarga. Aku sedang berpacaran dengan anaknya pak Noval. Malam ini, hari pertunanganku. Dimalam ini tepat usiaku 22 tahun bersamaan dengan kenaikan jabatanku sebagai seorang manager sebuah penerbit ternama. Hari keberuntungan kupikir.

“Ayo Vina. Kau coba asinan salak ini. Ini buatanku loh” kata Rahma, istri pak Noval. Tante Rahma memang cantik. Pantas saja, wajah anaknya sangat mirip dengannya. Jika wajah anaknya tak begitu ganteng. Mungkin aku tak akan pernah mau, dijodohkan dan akan dinikahkan dengannya.

 

Mae Rose

Cileunyi, 19 November 2017

#FFKamis · cerbung · Cerpen · FF · Fiksi · Menulis Absurd

Fiksi Mae Rose : Cerpen – Miringnya Sang Mercusuar


Sumber : google.com

Pagi ini, terdengar kabar. Ada anak yang hilang ketika berenang di pantai. Anak yang tenggelam adalah anak pramuka yang kemping di sana. Dan mereka mandi disekitar mercusuar.

“Ade anak ilang dekat mercusuar. Kate e die kesedot ke bawah mercusuar,” kata tetanggaku pagi ini.

Sudah sejak lama tersiar kabar, mercusuar itu meminta tumbal. Mercusuar itu, satu-satunya lampu yang berada di pantai itu. Dia sebagai pelita bagi nelayan dan kapal yang kebetulan melewati pulau kami yang kecil. Mercusuar itu sudah berdiri sejak zaman dahulu kala. Zaman Jepang tepatnya. Kudengar dari cerita orangtuaku, mercusuar itu tempat pembuangan mayat. Tempat eksekusi tahanan perang. Mereka dibunuh di sana dan lebih seram lagi, kata orang-orang di daerahku, jika mercusuar sudah miring. Maka bersiaplah, dia akan meminta tumbal untuk kembali tegak.

Jantungku langsung berdebar hebat. Pria disampingku menepuk pundakku. Aih orang ini, apakah tidak bisa menyapa orang dengan lembut. Apa dia tidak lihat keadaan disekeliling mercusuar ini tegang dan menyeramkan.

“Iya, ada apa?” Jawabku sedikit ketus.

“Maaf…maaf…,” pria itu langsung pergi.

“Pria aneh” gumamku pelan. Terdengar suara tangisan didekat kerumuman itu. Suara seorang wanita menangis kencang.

“Ngapelah nak, kau berenang. La mak pade, janganlah kau cube berenang kalau kau kemping deket pantai ni,”

Suara mobil ambulan meraung hebat. Anak yang telah ditemukan itu dibawa ke rumahnya. Semua orang yang melihat mayat tadi, langsung membubarkan diri. Halaman mercusuar kembali sepi kembali.

“Cube kau lihat!, menara e tegak,” kata perempuan tua disampingku.

“Ooo aok, benar kate awak. Kemaren ku tengok menara tu agak miring. Sekarang lah tegak die. Tande e menara tu la makan tumbal. Kanak tu lah tumbal e,” timpal teman perempuan tua itu. Aku yang mendengarnya mengecitkan dahi. Sambil mataku melihat menara mercusuar. Bukannya kondisinya sama saja miring. Apanya yang tegak. Pikirku di dalam hati.

Malam ini, aku seperti biasanya. Duduk manis didekat jendela di kamarku. Kamarku kecil. Tapi, aku sangat menyukainya. Kamar ini, sebenarnya adalah kamar darurat. Orangtuaku sengaja membuat kamar ini, untuk menghindari banjir rob. Karena biasanya setiap musim air laut pasang. Air bisa masuk ke rumah. Bahkan rumahku pernah kebanjiran karena air laut terlalu naik ke darat. Dan yang paling aku sukai jika tidur di kamar ini. Aku bisa melihat lampu dari menara mercusuar itu. Terlihat jelas.

Kutatap mercusuar itu dari kamarku. Tak ada yang berubah. Posisinya masih miring, seperti menara Pisa di Italia pikirku. Tapi, mengapa mereka bilang menara itu tegak jika ada yang kebetulan meninggal?

“Ase,nak ikut dak?” Teriak bapak dari bawah.

“Ikut pak?” Jawabku. Malam ini bapak mau mengajakku ke menara. Kata bapak, malem ini jatah bapak menjaga menara. Kalau enggak dijaga, kadang ada beberapa anak muda yang masuk. Mereka, sering membawa minum minuman keras. Mereka juga kadang suka mencoret dinding menara. Dan sering meninggalkan botol minuman keras itu dibangku taman. Malah, kata bapak kadang ada beling yang berserakan. Jika tak dibersihkan, nanti kena pengunjung yang ingin duduk di taman dekat menara.

“Kau tunggu disini dulu. Bapak mau ambil senter di pos. Sekalian bapak mau kunciin pintu pagarnya,”

Menara ini sepi. Yang jaga juga cuma 2 orang. Bapakku dan pak Supratman tetanggaku.

“Ikut Se? Ga takut ikut bapakmu. Nanti ada penampakan loh,” ah pak Supratman selalu menggodaku jika aku ikut menjaga menara. Aku tak terlalu sering ikut bapak. Karena besok hari libur, aku ikut bersama bapak. Menjaga menara ini. Itupun tidak ikut bergadang, biasanya sekitar jam 9 aku mulai mengantuk.

“Ni, otak-otak. Makan di dalam pos. Jaketnya dikancing. Dingin. Bapak patroli dulu”

“Pak, aku boleh ikut patroli juga?” Kataku kepada bapak. Bapak mengangguk tanda setuju. Sambil mengunyah otak-otak. Kuikuti langkah bapak dari belakang. Aku baru menyadari, kalau kaki bapak sangat besar. Pantas saja, setiap kali bapak mendapat sepatu dari kantor tak ada yang muat di kakinya. Kaki bapak besar. Aku tertawa kecil. Otak-otak di plastik sudah habis. Sekarang tenggorokanku haus. Mau balik lagi ke pos. Lampu disini tidak begitu terang. Ah kutahan saja sebentar.

Sudah berjalan begitu lama, mengapa belum sampai juga di pos. Biasanya hanya sebentar. Apa karena tadi aku berjalan perlahan sambil makan otak-otak ya? Jadi terasa belum sampai. Hai, siapa itu? Kulihat ada seorang wanita di taman dekat menara. Mungkin itu penjual di luar menara. Dia tersenyum kepadaku. Dipegangnya tangan kecilku.

“Makanlah,” ucapnya ramah. Kulihat banyak otak-otak di atas meja taman. Tak hanya otak-otak, di meja juga ada mie goreng kesukaanku. Kebetulan sekali, aku lapar. Kuambil semua makanan. Dan kuletakkan diatas piring dengan motif seperti piring yang dipajang ibu di dalam lemari. Piring almarhum nenek. Piring Belanda kata ibu.

Pagi yang dingin.

Suara manusia yang ribut, terdengar jelas ditelingaku. Apakah sudah pagi? Kubuka mataku perlahan. Cahaya matahari pagi, menyilaukan mataku.

“Pak, tu Ase deket sumur,” teriak salah seorang warga yang tampak ku kenal.

“Ya Allah, Se. Tadi malem kau kemane? Kamik becarek keleleng? Beputar-putar menara kamik nyarik awak? Rupe kau tiduk diatas sumur ni?”

Di atas sumur? Kulihat tubuhku memang di atas penutup sumur tua di dalam menara. Tapi, bukannya malam tadi. Selepas aku makan dengan kenyang. Aku dihantar wanita itu ke rumah. Aku merasa aku tidur di atas ranjangku yang empuk. Hah, apa ini? Balok kayu? Bukankah tadi malam aku memeluk boneka kelinci yang biasa kubawa tidur? Berarti tadi malam? Siapa wanita itu?

“Kurase, anak awak ni tadi malam. Dibunyik hantu wanite belande penghuni sumur tu pak As. Make e, tadi malam kite dak ketemu-ketemu” kata salah satu warga yang berdiri disamping bapak.

Cileunyi, 21 September 2018

Cerita Mae Rose · Tekno · Tekno Mae Rose

Tekno Mae Rose : Cara Mengatasi Asus Zenfone X014D Dicharger Berwarna Merah


foto ngambil di zefone-id, berhubung hpnya ga bisa difoto jadi pinjem picnya πŸ˜€

Pernah ngalamin, kasus hp asusmu tiba-tiba ga bisa dicharger? Ketika di charger lampunyanya hanya kedip-kedip. Awalnya saya pikir, karena masalah baterai dan masalah kabel chargeran, kemudian digantilah dengan memakai kabel USB yang lain. Ternyata tidak membantu untuk mencharger hp. Tak habis akal saya coba ganti kepala chargeran dengan volt yang sama, hasilnya nihil. Setelah browsing sana sini, ternyata permasalah hp asus tipe saya adalah kebanyakan pada masalah enggak bisa charger dan hanya kedip-kedip berwarna merah.

Nah, untuk mengatasi hal ini, jangan panik dulu, yang pertama harus kamu lakukan yakni :

Pertama, Lepas baterai hp asusmu beberapa menit.

Biasanya karena panas, hp terkadang enggak bisa di charger. Setelah itu, coba dipasang kembali, kemudian charger. Adakalanya, pakai cara ini. Hp bisa dicharger kembali.

sumber foto : https://utakatik-dewe.blogspot.com/

Kedua, pancing lewat chas kodok beberapa menit.

ketika cara pertama tidak berhasil. Mungkin kamu harus menggunakan pancingan lewat chas kodok. Charger bateraimu lewat chas kodok beberapa menit, sekitar 10 menitan. Kemudian cabut baterai dari chas kodok. Pasang kembali baterai di hp asusmu dan hasilnya hp bisa dicharger kembali via charger bawaannya. Cara ini sudah saya coba 2 kali, hasilnya 2 kali juga hp asus saya bisa dicharge lewat charger bawaannya.

 

 

Selamat Mencoba,

 

 

 

Menulis Absurd

Buku Antologiku : Jejak Asa


Jejak Asa adalah antologi yang menceritakan tentang gigihnya para pejuang mimpi. Tentang bagaimana masalah, keterbatasan dan musibah tidak menyurutkan langkah dan tekad mereka dalam menggapai impian.
Sebuah antologi fiksi yang ingin mengajak pembaca untuk menemukan pesan tersirat yang ada di setiap kisah, di dalamnya. Sebuah buku dengan kumpulan kisah-kisah inspiratif yang _insya Allah_ penuh makna dan ada nilai pengajaran di dalamnya.
Para penulis sangat pandai memaparkan penggalan kisah hingga menjadi sebuah pendekatan baru untuk melihat sisi-sisi lain dari sebuah perjuangan.

Yang mau pesan bisa ke saya, 083825518329, dengan format sebagai berikut :
Format pemesananNama:
Penulis/ Pembeli:
Alamat:
Kelurahan:
Kecamatan:
Kota :
Provinsi:
Kode POS:
No. Telepon:
Judul Buku:
Jumlah:
Jasa kurir: JNT

Lomba Blog · Menulis Absurd

Ceriakan Perjalanan Ke Australia dengan Cheria Travel


Sydney Opera house

“Sydney Opera house” by brunsdon is licensed under CC BY-NC-ND 2.0

Australia negeri wol katanya katanya
Aborigin sukunya katanya katanya
Bumerang senjatanya wow wow
Kangguru binatangnya
…..
Hayoo, siapa yang tahu lagu ini? Betul sekali, lagu anak-anak yang dibawakan Trio Kwek Kwek tentang beberapa negara, diantara liriknya menggambarkan tentang negara Australia.

Australia, siapa yang tidak mengenal negara ini. Negara yang terkenal dengan hewan berkantong, kanguru. Australia merupakan sebuah negara yang berada di bagian selatan dunia. Australia merupakan benua terkecil di dunia dengan suku aslinya adalah suku aborigin atau yang lebih dikenal dengan sebutan indigineus Australia. Tidak hanya terkenal dengan hewannya yang sangat unik dan lucu. Australia juga memiliki keunikan yang sangat menarik untuk dilihat, seperti beberapa tempat wisata yang mempesona.

Bagi yang berkeinginan jalan-jalan ke Australia, ada baiknya sebelum berpergian, mempersiapkan diri dengan mencari informasi tentang berbagai hal, seperti tiket, penginapan setelah sampai serta berapa besar biaya yang dikeluarkan jika berwisata ke sana. Apabila, perjalanan ini adalah perjalanan pertama menyusuri negara kanguru, kita juga harus memikirkan untuk menyewa pemadu wisata. Hal ini, patut dipertimbangkan bagi yang berwisata mandiri, karena tidak lucukan, jika tiba-tiba tersesat disana?😁.

Tapi, klo kita tidak mau ribet dengan masalah diatas, tidak ada salahnya kita bisa menggunakan jasa travel yang menyediakan paket perjalanan sekaligus. Kita tinggal berangkat dan tidak terlalu pusing memikirkan hal-hal yang bikin ribet.

Berbicara soal jasa travel memang kudu jeli dan hati-hati memilih. Salah pilih travel perjalanan, bisa bikin kacau dan merusak mood. Alih-alih happy malah jadi emosi. Nah untuk itu, ada baiknya, mencari travel yang sudah terkenal dan teruji dalam melakukan perjalanan keberbagai negara dan destinasi wisata serta memiliki satu paket perjalanan lengkap mulai dari penginapan, makanan, pemandu wisata sampai ketempat mana saja akan berkunjung. Mesti diingat, memilih travel, tidak cukup terkenal saja. Testimoni para pelangganpun, harus dijadikan acuan, dari testimoni pelangganlah, bisa dilihat kwalitas dan profesionalkah travel tersebut.

Salah satu jasa travel yang bisa terpercaya dengan pengalamannya menghantar para konsumen berwisata keluar negeri dan bisa bikin ketagihan jalan-jalan kembali ke luar negeri, yakni Cheria Travel. Cheria Travel, tak main-main memberikan pelayan terbaik kepada pelanggannya, mulai dari hotel yang keren, memilihkan tempat wisata yang menarik, sampai wisata halal yang dikhususkan agar tidak bingung mencari menu-menu halal di negara yang dikunjungi. Pokoknya, jasa pelayanan mereka, lain dari pada yang lain dan membuat pelanggan tak kapok untuk menggunakan Cheria Travel kembali.

Setelah mempersiapkan jasa travel, mari kita lihat seputar wisata dan lokasi wisata di negara Australia. Banyak tempat wisata di Australia yang menarik untuk dikunjungi, diantaranya beberapa tempat di bawah ini :

  • Ikon kota Sydney yakni Jembatan Pelabuhan Sydney dan Sydney opera house.

Belum sah rasanya, berjalan-jalan ke Australia tepatnya berkunjung ke kota Sydney jika belum berkunjung kedua tempat ini.

Jembatan pelabuhan Sydney sering disebut masyarakat disana dengan The Coathanger (gantungan pakaian), karena kalau diperhatikan baik-baik jembatannya memamg mirip seperti gantungan pakaian. Selain itu juga, diatas jembatan ini, terdapat beberapa jalur kendaraan seperti kereta api, sepeda, kendaraan bermotor dan trotoar. Sehingga memungkinkan kita untuk berjalan santai dan berhenti sejenak dan melihat pemandangan yang indah dari jembatan ini.

Setelah puas wara wiri di jembatan, langkahkan kaki sejenak ke Sydney Opera House. Bagi yang suka pertunjukan seni, tempat ini sangat cocok untuk dikunjungi. Di sini, kita bisa melihat beberapa pertunjukan seni seperti teater, balet dan pertunjukan seni lainnya, yang bikin menarik dari gedung ini adalah bentuk gendungnya yang menyerupai cangkang.

_MG_8791

“_MG_8791” by ajacopetti is licensed under CC BY-NC-ND 2.0

  • Philip Island dan Taronga Zoo Sydney.

Kedua tempat ini adalah lokasi wisata, dimana kita bisa melihat beberapa hewan seperti pinguin, koala dan beberapa hewan ciri khas Australia.

Di Taronga Zoo, kurang lebih ada 4.000 satwa dari berbagai spesies esotis dan asli Australia, sehingga kita bisa puas menikmati beberapa hewan di sini. Sedangkan di Philip Island, di sini kita bisa melihat parade pinguin yang menuju daratan pantai. Sudah pasti dipastikan, kita akan tersenyum melihat pengiun yang berjalan dengan badannya yang bergoyang-goyang kiri kanan.

  • Cable Beach

Jika datang ke negara Arab, mungkin kita tak begitu asing melihat orang-orang menaiki unta di sepanjang jalan. Tapi, bagaimana jika naik unta menyusuri pantai dan itu bukan di negara Arab? Tentu saja bisa! Nah, di Brome, Australia Barat tepatnya di pantai yang bernama Cable Beach kita bisa berjalan-jalan, menikmati matahari tenggelam atau sekedar menikmati pasir pantai yang putih dan halus. Jika tak suka unta, di pantai ini juga, menyediakan transportasi lain untuk berkeliling pantai.

Berbicara tentang tempat wisata di Australia, kalau diceritakan satu persatu tentu satu halaman blog ini tidak cukup. Untuk hayuk cepatan, hubungi Cheria Travel biar bisa menikmati perjalanan yang menarik dan berkesan di negara hewan berkantung. Selamat liburan 😊😊😊.

Lomba Blog Cheria Holiday #9 2019