Fiksi Mae Rose : Cerpen – Hanya Sebuah Suara


Sumber : unknow

Suara itu kembali terdengar. Suara ketukan di atas genting. Setiap malam selalu terdengar, lebih tepatnya dini hari.

***

“Ngomong-ngomong, kalian dengar tidak? Tadi malam, ada suara aneh di atas genting?” kata iparku Susi .

“Ooo, itu, ada burung di atas genting,” jawab Ibu mertuaku.

“Masak sih burung,” kata Susi tak percaya.

“Hei, kau Lulu. Tadi malam, kau dengar suara ketukan di atas genting?” tanya Susi kepadaku.

“Kau bertanya sama dia. Dia kalau tidur, tidur mati,” sela kakak iparku Pipit yang sifatnya sekali tiga uang dengan Susi.

Aku yang ditanya diam saja. Aku malas menjawabnya, karena jikaku jawab, mereka akan menertawakanku. Lebih baik, aku mengantar suamiku ke kantor, dari pada meladeni dua mulut itu.

“Baik-baik di rumah,” kata suamiku, Tri. Kukecup punggung tangan suamiku.

Pagi ini, dia berangkat kerja tanpa motor. Motornya rusak, sedang diperbaiki di bengkel. Kemarin sore, suami Susi meminjam motor suamiku, dia menabrak sebuah mobil yang terparkir disebuah mini market. Beruntung, yang punya mobil tidak meminta ganti rugi. Jika minta rugi, pasti suamiku juga yang menggantikannya. Sekarang, suami Susi masih di rumah sakit. Kakinya patah, tertimpa badan motor.

“Nyonya Tri, mau masuk. Kasih jalan,” ejek Susi, ketika aku menutup pintu.

Andai aku bisa menjawab ejekannya, mungkin aku akan berkelahi dengannya. Sayang, aku masih menghormati mertuaku. Jika tidak, sudah kutampar wajahnya.

“Kamu ini Susi, bukannya siap-siap ke rumah sakit. Malah asik ngejekin orang. Kalau bukan karena Tri, suamimu itu enggak akan dioperasi kakinya, ga tahu malu,” omel Ibu mertuaku, diikuti wajah Susi yang berubah tidak senang. Susi, langsung pergi tanpa pamit.

“Lihat, menantu enggak tahu diri. Pamit sama mertuanya enggak, malah nyelonong seenak jidatnya,” gerutu Ibu mertuaku kesal.

Susi memang tak begitu akur dengan mertuaku. Dia selalu membuat Ibu mertuaku mengomel pagi-pagi. Mulai dari bangun kesiangan, tidak mencuci piring sampai hobbynya yang selalu bergosip menjadi alasan mengapa Ibu mertuaku tidak menyukainya.

***

Malam ini, semua berkumpul di meja makan. Suamiku, yang biasanya pulang larut, kali ini pulang lebih awal.

“Tri, istrimu ini diajarin bergaul. Biar enggak kuper,” kata Pipit, kakak iparku.

“Nah, mulai lagi. Belum puas juga, tadi udah bikin malu Lulu. Sekarang, makanpun mau ribut juga,” bentak ibu mertuaku dan itu membuatku tersenyum puas.

“Lah, salah dia juga,” ucap kakak iparku membela diri.

“Mulut kamu itu yang seharusnya dijaga, pantas saja suami pertamamu menceraikanmu. Tingkahmu itu, yang seharusnya bikin kau sadar, Pit!” suara mertuaku terdengar meninggi.

Suasana meja makan mendadak panas, Pipit membanting piringnya di meja, kemudian dia masuk ke dalam kamar.

“Sudahlah Bu, ayo kita lanjutkan makan,” kata suamimu.

“Gimana enggak marah, Tri. Kalau enggak istri adekmu, ya tuh kakakmu. Kerjaannya cari kesalahan orang, ngegosip. Klo adekmu, punya kerja. Udah Ibu suruh dia ngontrak. Ibu dari dulu, ga suka sama istrinya itu, ditambah kakakmu itu. Suruh dia cepat-cepat nikah!” kata Ibu mertuaku kesal.

Kuakui, memang Susi dan kakak iparku itu sangat menyebalkan. Tapi, mau diapain lagi. Tinggal satu atap dengan ipar itu, benar-benar tidak mengenakan. Semua dikomentari, beruntung aku mendapatkan mertua yang bisa melihat mana yang benar dan salah. Jika tidak, mungkin aku bakal stress.

“Jangan dimasukin ke hati. Kak Pit, memang gitu orangnya. Mudah-mudahan dia cepet dapet jodoh,” kata suamiku, ketika kami berbicara di kamar.

Ingin aku bercerita, bagaimana perlakuan kakak dan istri adiknya, jika tidak ada ibu mertua di rumah. Aku hanya bisa menahan sakit hati yang teramat sangat. Tapi, percuma saja. Jika aku bercerita, yang ada hanya aku yang disalahkan suamiku. Dia pikir hatiku terbuat dari baja. Sehingga setiap hinaan bakal mental dengan sendirinya.

Malam semakin larut, mataku tidak bisa diajak kompromi. Suara suamiku yang berceramah tentang kebaikan berbuat baik seperti dongeng penghantar tidur. Akupun terlelap.

Udara menjelang tengah malam, teramat dingin menusuk tulang. Aku menarik selimutku rapat. Sayup, mulai terdengar suara ketukan di atas genting, seperti suara ayam mematuk jagung.

Ish, berisik benar suaranya.

Kututup telingaku dengan bantal. kucoba melanjutkan tidur. Lama kelamaan, suara itu tampak berbeda. Kulirik jam dinding di kamar. Jam dua dini hari. Aku mulai penasaran, ingin melihat, benda apa yang selalu berbunyi setiap malam. Apa benar itu burung? Atau ada benda lain seperti manusia yang ingin mencuri? Kubuka pintu kamar perlahan, sambil memegang senter kecil. Kuberanikan diri, menaiki loteng di ujung dapur.

Suara itu semakin jelas di telinga. Kuarahkan cahaya ke seluruh ruangan. Tak ada yang mencurigakan. Aku mulai memberanikan diri melangkah memasuki loteng. Langkahku seketika terhenti. Aku melihat burung raksasa dibalik jendela loteng, burung itu mematuk dengan paruhnya yang tajam. Daun jendela hampir terbuka dibuatnya. Kuarahkan cahaya senter. Aku menelan ludah, yang mematuk daun jendela bukanlah burung, melainkan sosok makhluk aneh, bersayap, seperti burung gagak. Sorot matanya yang tajam dan berwarna merah, menatapku sinis. Dia menyeringai, kemudian terbang tinggi ke langit.

Tamat

Cileunyi, 22 Agustus 2019

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Part 1)


“Bun, Win, kita kesana,” teriak Sunni. Wina, Sunni, dan Buni adalah teman satu sekolah. Mereka sering bermain bersama. Ketika tugas sekolah telah mereka kerjakan, mereka akan bermain di tanah lapang dekat balai desa. Tapi, kali ini, Sunni mengajak Buni dan Wina pergi ke hutan di pinggir desa.

“Sun, kita bermain di tempat biasa saja,” kata Wina.
“Jangan bermain didekat hutan itu Sun! Ibuku pernah bilang, hutan itu berhantu,” Buni menyakinkan Sunni.
“Ya sudah, kalau kalian tidak mau. Aku saja yang bermain di sana,” kata Sunni, kemudian Sunni berjalan seorang diri memasuki hutan yang lebat.
Buni dan Wina saling bertatapan. Mereka sangat takut untuk mengikuti Sunni masuk ke dalam hutan, sedangkan Buni, masih mengingat cerita Ibunya, Ibunya pernah bercerita, kalau hutan itu ada penjaganya. Dia bisa memakan siapa saja yang berani masuk tanpa izin. Penjaga hutan itu akan marah. Jika ada mengambil sesuatu dari dalam hutan.
Pernah suatu hari, seorang pria dari desa seberang, masuk ke dalam hutan. Dia menebang pohon dan mengambil beberapa kayu disana. Tidak ada yang terjadi setelah dia keluar dari hutan. Hanya saja, pria itu tidak pernah kembali untuk menebang pohon. Menurut cerita, pria itu terkena penyakit aneh. Setelah dia sampai di rumahnya, pria itu sakit parah, badannya dipenuhi belatung, badannya bolong-bolong penuh luka, kemudian meninggal dunia.
“Hayo, kita bermain di dalam, tidak perlu takut. Penjaga hutan ini sangat baik,” teriak Sunni dari pinggir hutan, sebelum tubuhnya menghilang dibalik pohon-pohon besar.
Buni dan Wina, hanya diam membisu, mereka melihat Sunni mulai hilang dan tak terlihat lagi. Samar-samar, Buni melihat sesuatu, entah matanya yang salah melihat atau bukan. Buni melihat Sunni bersama wanita berpakaian seperti pengantin jawa, menuntun tangan Sunni masuk ke dalam hutan. Buni juga melihat, beberapa makhluk dengan wajah menyeramkan dan berbulu mengikuti wanita itu dari belakang. Wanita itu sempat melihat kearah Buni, dia tersenyum, sambil melambaikan tangannya untuk menganjak turut serta.
“Bun, kita pulang saja. Sebentar lagi, solat ashar. Kita harus belajar mengaji di surau,” tepukan keras di bahu Buni, membuatnya tersadar dari apa yang dilihatnya tadi.
“Sunni, bagaimana Win,” kata Buni.

“Nanti juga pulang sendiri, dia sudah sering main disitu. Hayo, kita pulang,” kata Wina sambil menarik tangan Buni. Buni menoleh ke belakang, hutan yang dimasukin Sunni dan wanita cantik itu, sudah menghilang. Buni, hanya lihat pohon-pohon besar yang berdiri kokoh disana.

Bersambung.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Sinopsis)


Sumber foto : unknow

Sinopsis

Seorang anak bernama Sunni, dia suka sekali bermain di dalam hutan. Ketika Sunni bermain di dalam hutan, Sunni bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Wanita itu sangat baik. Dia tinggal di sebuah rumah di tengah hutan.

Hingga suatu hari, Sunni menghilang di dalam hutan. Penduduk desa berusaha mencari Sunni, dua sahabat Sunni yakni Wina dan Buni ikut serta mencari Sunni. Ketika mencari Sunni, para penduduk bertemu dengan makhluk halus berwujud manusia. Semua orang berusaha melawannya. Namun sia-sia.

Akankah para penduduk menemukan Sunni? Siapakah makhluk yang ditemui para penduduk? Apakah benar, di tengah hutan ada sebuah rumah? Ikutin ceritanya, dan kau akan menemukan semuanya di Misteri Rumah Di Tengah Hutan.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Kebaya Merah Masinah (Part 7 – Tamat)


#IndieMomWritingContest
#TujuhLangkahMenujuMerdeka

Lomba 7 hari Menuju Merdeka

sumber : unknow

Ini hampir mendekati pernikahan. Tapi, mas Budi belum datang ke rumah. Di mana kamu, mas?

Masinah, memandang ke luar jendela. Dari siang hingga petang, Masinah hanya duduk dengan tatapan kosong dan berharap Budi datang kehadapannya.

“Anak gadis, tak boleh ngelamun di jendela seperti itu, Masinah!” suara Ibu Masinah, membuat Masinah tersadar dari lamunannya.

“Eh, ada Ibu,” Ibu Masinah mengecup kening Masinah lembut. Masinah langsung memeluk erat Ibunya.

Tuh, dicoba. Tadi, Ibunya Budi memberikan baju, untuk dipakai besok pagi. Bajunya cantik, kebaya berwarna merah.

“Bu, ada kabar dari mas Budi?” tanya Masinah, sambil mencoba bajunya.

Pamali, jangan tanya-tanya calon suami! Nanti juga, kamu bakal ketemu. Kata orang tua, rasa kangen disimpan dulu. Biar nanti pas ketemu, menambah rasa cinta. Makan dulu nak, nanti kamu sakit,” kata Ibu Masinah.

“Iya Bu, Setelah menutup jendela, aku akan makan,” jawab Masinah. Belum sempat Masinah menutup jendela, terdengar suara di balik pohon, dekat jendela kamar Masinah.

“Psst,” Masinah mencoba mencari sumber suara.

Mas Budi!

“Sampai bertemu besok, aku mencintaimu,” kata Budi setengah berbisik. Budi melambaikan tangannya, dibalas Masinah dengan senyuman.

Pagi harinya, semua kerabat dan keluarga telah berkumpul. Budi, tampak gagah dengan peci dan baju putih. Budi duduk berhadapan dengan penghulu nikah. Dibalik tirai, terlihat Masinah tampak cantik dengan kebaya merahnya. Wajah Masinah, berseri indah.

Penghulu nikah, mulai mengisyaratkan akan melaksanakan ijab kabul. Budi, dengan lantang dan lancar mengucapnya. Semua yang hadir dengan kompak mengatakan.

“Sah.”

Masinah, di bawa keluar, bersanding dengan Budi. Namun, kebahagian mereka tidak berlangsung lama. Beberapa anak buah Tuan Steve, tiba-tiba menembak secara membabi buta. Semua orang menyelamatkan diri dan berlindung dari tembakan.

“Pergi Masinah, Steve akan menangkapmu,” Budi menyuruh Masinah pergi. Budi menahan darah yang terus keluar dari dada kirinya.

“Tapi, Mas,” Masinah menangis tersedu.

“Mas, mencintai kamu Nah. Kita, akan bertemu di surga,” Budi, menghebuskan napas terakhirnya. Tangisan Masinah tak terbendung. Masinah terus menangis di atas tubuh Budi. Tiba-tiba, lengan tangan Masinah ditarik paksa. Masinah diseret Tuan Steve. Masinah berontak, tapi tenaga Masinah kalah kuat dengan Tuan Steve.

“Habisi, semua yang ada di sini, jangan ada yang tersisa!” Tuan Steve memberi perintah kepada anak buahnya.

Halaman rumah Masinah penuh dengan mayat dan darah. Masinah melihat tubuh Budi yang tak bernyawa, diberondong banyak peluru oleh Tuan Steve.

Tuan Steve, membawa Masinah ke dalam rumah. Tubuh Masinah di lempar ke atas ranjang. Tuan Steve tertawa senang, Tuan Steve menutup kamar itu rapat.

“Kasian kamu Masinah, baru menikah, suamimu mati. Hahahaha,” Tuan Steve mulai mendekati Masinah.

“Tak perlu takut Masinah. Aku lebih gagah dan jantan dari suamimu,” Tuan Steve, memegang bahu Masinah kuat, Tuan Steve, hendak mencium bibir Masinah. Mulutnya yang bau tuak, tercium sampai ke hidung Masinah. Masinah hampir muntah.

Namun, belum sempat bibir Tuan Steve sampai ke bibir Masinah, terdengar suara yang mengerikan dari mulut Tuan Steve. Darah segar membasahi seluruh kebaya merah Masinah. Tuan Steve, roboh. Tubuhnya terkulai lemas tak berdaya. Perut Tuan Steve sobek, isi perutnya terurai keluar. Masinah merobeknya dengan keris kecil yang diambil Masinah dari ikat pinggang Budi, ketika Tuan Steve menarik tanganya.

Darah segar menetes dari ujung kebaya merah Masinah. Warna Kebaya Masinah, menjadi merah pekat. Masinah, mendorong tubuh Tuan Steve yang sekarat. Sebelum meninggalkan Tuan Steve, mata Masinah tertuju ke sebuah golok yang tergelak di sudut kamar. Masinah mengambilnya, kemudian menebas ke leher Tuan Steve.

Masinah keluar kamar, dengan tersenyum puas. Tangan kanannya, memegang kepala Tuan Steve. Masinah, melempar kepala itu ke hadapan anak buah Tuan Steve. Anak buah Tuan Steve, terkejut. Mereka langsung menembak Masinah tanpa ampun. Masinah tersungkur bersimbah darah.

Tak berapa lama, datang sejumlah tentara Belanda, bersama teman Budi. Mereka menghentikan pristiwa berdarah itu. Anak buah Tuan Steve di tangkap, dan mereka di bawa pulang ke Belanda.

“Maafkan aku, Budi. Aku terlambat. Kubur semua mayat ini dengan layak!” perintahnya.

Semua mayat, diurus tentara Belanda. Jasad Budi dan Masinah di kubur berdampingan.

“Tuan, kepala Tuan Steve, tidak kami temukan,” kata seorang prajurit.

“Kita, tak punya banyak waktu, untuk mencarinya. Kita bawa sisa tubuhnya saja.”

Tentara Belanda, mulai meninggalkan desa. Satu persatu, kapal Belanda menjauh dari dermaga. Seluruh penduduk desa, merasa senang.

“Di mana tentara Belanda itu? Aku berhasil menemukan kepala Tuan Steve!” kata seorang anak kecil, sambil menenteng sebuah kepala.

“Mereka sudah pergi! Berikan kepala itu padaku,” Joko menghampiri anak itu dan mengambil kepala Tuan Steve. Kepala Tuan Steve di gantung di tiang pasar.

Tamat.

Cileunyi, 21 Agustus 2019.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Kebaya Merah Masinah (part 6)


#IndieMomWritingContest
#TujuhLangkahMenujuMerdeka

Lomba 7 hari Menuju Merdeka

“Akhirnya, kau akan menikahinya, Budi!” Tuan Steve, tiba-tiba datang dan bertepuk tangan.

Para tamu, sangat kaget melihat Tuan Steve bersama anak buahnya datang. Keluarga Masinah, tampak tidak senang.

Hallo, Tuan Steve. Tadi, saya pikir, Tuan tidak datang,” Ayah Budi, langsung mendekati Tuan Steve.

“Mari, cicipi hidangannya dulu,” Ayah Budi, mempersilahkan Tuan Steve mengambil hidangan di meja.

Sebelum berlalu. Tuan Steve, sempat berbisik di telinga Budi.

“Ingat janjimu Budi, jangan kau ingkari.”

Masinah yang berada disamping Budi, tampak takut. Masinah, memegang tangan Budi erat. Masinah menundukkan pandangannya. Tuan Steve, melihatnya dengan tatapan tak mengenakan. Ketika dia bersalaman, tangan Masinah, diremasnya kuat. Bahkan, diapun sempat menggoda Masinah di depan Budi.

“Aku tidak akan mengingkarinya, Steve,” jawab Budi, sambil mendorong tubuh Masinah pelan, ke belakang tubuhnya.

Masinah, memandang mata Budi. Di kepalanya, timbul berbagai pertanyaan.

Apa benar, mas Budi mata-mata orang Belanda? Jika bukan, ada perjanjian apa dengan Tuan Steve?

“Kau, percaya padaku kan?” kata Budi, melihat tatapan Masinah penuh tanya.

“Nanti, akan kujelaskan. Saat ini, aku tak bisa menjelaskannya padamu!” kata Budi kemudian.

***

1 bulan kemudian.

Satu hari, sebelum pernikahan. Masinah tampak sedikit gusar. Budi, belum juga kembali dari Belanda. Masinah teringat cerita Budi, sebelum dia pamit, pergi ke Belanda.

“Nah, masih ingat cincin yang aku berikan kepadamu?” tanya Budi. Masinah mengangguk cepat.

“Cincin itu, kudapatkan dari Tuan Steve, dia mengenal cincinmu. Cincin itu, ditemukan anak buahnya. Beruntung, saat dia memarahi anak buahnya. Aku berada di ruangan Tuan Steve karena suatu urusan. Aku melihat cincin itu. Tuan Steve, hendak menangkapmu bahkan jika kau tak mengakui, membebaskan Joko, kau akan dinikahi paksa. Aku berusaha menukar cincin itu dengan sebuah janji, yakni dengan memberikan beberapa peti emas setiap bulan,” cerita Budi kepada Masinah.

“Terus, kenapa Mas Budi ke Belanda?” tanya Masinah.

“Waktu aku belajar di Belanda. Aku mempunyai seorang teman orang Belanda. Sekarang, dia menjabat kepala keuangan di sana. Beberapa waktu yang lalu, dia mengabariku akan memecat Tuan Steve, karena melakukan korupsi dan akan menarik pasukan dari desa. Aku memiliki bukti kuat, jika Tuan Steve melakukan korupsi. Jika tidak dicegah, negara mereka, bisa mengalami kerugian besar,” jawab Budi.

“Tapi, mengapa tidak dikirimi surat saja, Mas?” tanya Masinah lagi.

“Aku sudah di mata-matai Nah! Suratku tidak pernah sampai. Waktu di ruang Tuan Steve, aku menemukan surat-suratku berada di mejanya. Salah satu cara, agar dia pergi dan tidak membuat kita di jajah lagi yakni Aku harus memberikan bukti korupsinya secara langsung. Ingat Nah, jangan beritahu siapapun, aku ke Belanda! Aku berjanji, satu hari sebelum pernikahan kita. Aku akan ke sini,” Budi memegang tangan Masinah lembut, kemudian Budi mengecup kening Masinah.

Bersambung.

Cileunyi, 20 Agustus 2019.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Kebaya Merah Masinah (part 5)


#IndieMomWritingContest
#TujuhLangkahMenujuMerdeka

Lomba 7 hari Menuju Merdeka

sumber : unknow

“Apa Mir? Yang benar saja. Mana mungkin mas Budi, mata-mata pasukan Belanda?” kata Masinah tidak percaya.

“Memang sangat sulit, untuk mempercayainya. Tapi, dia memang salah satu mata-mata Belanda. Dia, ingin menangkap kami, karena dia tahu pergerakan kami sangat berbahaya,” kata pemimpin pergerakan pemuda, Sastro.

“Kau lihat orang itu? Dia, Rojali, penjaga pintu penjara. Rojali, sangat piawai memerankan perannya di sana. Jika tak ada dia, mungkin kami tidak bisa membebaskan tahanan yang hampir mati, disiksa orang Belanda,” lanjutnya kemudian.

“Aku semakin tidak mengerti,” kata Masinah, ketika mendengar cerita Sastro.

“Ya ampun, kau tak sadar juga. Kau tahu, mengapa cincinmu berada di tangan Budi? Masinah, Tuan Steve dan anak buahnya sedang mencari orang yang membebaskan Joko. Mereka mencurigai seseorang, dan kau tahu. Cincinmu yang jatuh itu, ditemukan anak buah Tuan Steve! Kau bayangkan saja, jika Budi bukan mata-mata orang Belanda, cincin yang sudah ditemukan itu, tak mungkin di tangannya,” ucap Mira berapi-api.

“Tapi, Mir. Cincin ini sebenarnya…”

“Sudahlah Mir, tak elok juga. Kita memaksa Masinah untuk mengawasi Budi,” kata Sastro.

“Yang terpenting, kau pastikan. Masinah, tak menceritakan tempat ini. Jika tidak. Kita akan segera angkat senjata memerangi Belanda,” lanjut Sastro tegas.

***

Dua hari, setelah kejadian cincin Masinah hilang. Di rumah Masinah, diadakan hajatan besar-besaran. Semua tetangga membantu keluarga Masinah.

“Jam berapa toh Bu, acaranya?” tanya salah satu wanita yang membantu hajatan.

“Sebentar lagi, Bu. Kebetulan iring-iringan dari pihak laki-laki, belum sampai,” jawab wanita disampingnya.

“Anak perempuan Pak Jojo, yang mana yang mau dilamar. Anak pertamanya, Sutima atau anak keduanya, Masinah?” tanya wanita itu lagi.

“Denger-denger sih, anak keduanya.”

Suara gendang menyambut tamu, berbunyi nyaring. Terlihat, beberapa orang membawa beberapa baki di tangannya. Terlihat pula, laki-laki berpakaian hitam dengan peci senada, sedang berjalan di belakang pembawa baki.

Bisik-bisik para wanitamu, mulai terdengar.

“Lihat itu, prianya sangat gagah. Tampan, pintar, kaya, dan dermawan lagi. Beruntung sekali anak Pak Jojo.”

Semua rombongan, masuk ke dalam rumah Pak Jojo. Proses lamaran dan seserahan berjalan lancar. Terlihat di dalam kamar, Masinah memperhatikan proses lamaran berlangsung.

“Nak, keluarlah. Saatnya untuk tukaran cincin,” kata Pak Jojo, Ayah Masinah.

Masinah, berjalan pelan ke tengah rumah di dampingi Ibunya. Masinah tampak cantik, dengan kerudung merah muda di kepalanya. Wajahnya dipoles tipis dengan makeup, membuat wajah Masinah tampak sangat cantik. Cincin dari Budi, sudah melingkar di jari manis Masinah.

“Alhamdulillah,” ucap semua yang hadir.

“Setelah ini, kita akan menentukan tanggal dan hari kapan pernikahannya berlangsung,” ucap Pak Jojo.

Satu persatu tamu, mulai meninggalkan rumah Masinah. Para tamu, mengucapkan selamat atas proses pertunangan Masinah.

“Selamat ya Budi. Aduh cantik banget calon istrimu,” kata salah satu tamu, Budi hanya tersenyum, sambil matanya milirik Masinah.

Bersambung.

Cileunyi, 19 Agustus 2019.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Kebaya Merah Masinah (Part 4)


#IndieMomWritingContest
#TujuhLangkahMenujuMerdeka

Lomba 7 hari Menuju Merdeka

Masinah menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya kepada Mira. Mira yang melihat cincin itu, hanya tertawa.

“Mirip toh, sudah kubilang, mirip,” kata Mira sambil tertawa.

“Ini, cincinku yang hilang itu loh Mir!”

“Masak sih? Trus, kok bisa di tanganmu?” Mira memegang tangan Masinah. Mira pun, membandingkan cincin yang dibeli di toko emas tadi.

“Mas Budi yang kasih,” kata Masinah.

“Apa! Budi?” Mira segera menarik tangan Masinah menjauh dari pasar. Mira, membawa Masinah ke sebuah tempat minum tuak.

“Aku enggak mau minum, Mir!” Masinah berusaha melepas tangannya.

“Udah, ikut saja!” kata Mira kemudian.

“Ko, tuak empat,” kata Mira kepada penjual tuak.

“Ok, dua tiga empat,” penjual itu menyerahkan sebuah kertas. Mira dengan cepat memasuki, sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu, bau tuak menyengat hidung.

“Mir, aku pengen muntah. Enggak kuat aku,” kata Masinah sambil menutup hidungnya.

“Sttt,” Mira, meletakkan telunjuknya di depan mulut. Mira, mendekati meja yang penuh dengan botol tuak. Tiba-tiba, dinding di depan mereka terbuka. Mira dengan cepat menarik tangan Masinah ke dalam. Mira mengambil pematik api, kemudian menghidupkan obor yang ada di dinding. Mereka berdua menurunin anak tangga. Di bawah sana, terdengar suara riuh.

“Mir, kita mau kemana? Tempat apa ini?” tanya Masinah sedikit khawatir dan takut.

“Nanti, setelah sampai di bawah. Kau akan tahu,” jawab Mira.

“Salam,” kata Mira, kepada para pemuda yang sedang berkumpul di bawah.

Masinah, belum mengerti tujuan Mira membawanya ke ruang itu. Satu persatu, Masinah memperhatikan wajah para pemuda. Masinah, memperhatikan seorang pemuda yang duduk dengan ikat kepala bendera merah putih. Masinah seperti mengenalnya.

Bukankah, itu prajurit penjaga penjara?

Masinah masih memperhatikan seisi ruangan. Masinah yakin, tempat ini adalah ruang pertemuan rahasia. Masinah kemudian duduk di kursi yang berada di dekatnya.

“Ini Masinah yang kuceritakan tempo hari,” kata Mira kepada seorang pemuda.

“Apa kamu yakin, dia bisa diajak kerjasama?” kata pemuda itu ragu.

“Masinah, orang yang bisa dipercaya. Saya sangat yakin, dia bisa membantu kita,” jawab Mira.

Mira memanggil Masinah. Mira memperkenalkan Sastro, pemimpin para pemuda di ruangan itu.

Bersambung.

Cileunyi, 18 Agustus 2019