Fiksi Mae Rose : Serutan Pensil (part 4)


Ibu Fia kembali ke rumah. Dilihatnya, kamar Fia, berantakan. Seperti ada kejadian yang luar biasa terjadi di kamar Fia.

“Apakah, kejadian itu terulang kembali? Smoga saja tidak,” gumam ibu Fia.

Matanya mengamati keseluruh sudut kamar. Tangannya mengambil semua barang Fia yang tergeletak di lantai. Diletakkanya kembali barang itu di meja.

“Serutan pensil yang cantik,” pikir ibu Fia.

Tapi, ketika ibu Fia melihat detail bentuk dan ukiran serutan pensil itu. Ibu Fia langsung membungkusnya dengan saputangan ditangannya. Serutan pensil itu, bergerak.

“Apa yang kau lakukan. Kau mau melawanku lagi Aliana, lepaskan aku. Atau anakmu akan bernasib sama denganmu” suara parau wanita terdengar disekitar kamar. Ibu Fia, hanya tersenyum. Dia tahu siapa pemilik suara jelek itu. Serutan pensil itu, terbungkus rapat di dalam saputangan yang basah karena airmata.

“Fia, ibu tak kan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Ibu tahu, dia tak akan pergi dari hidupmu. Ibu harus memusnakannya sendiri,” gumam ibu Fia, sambil memasukkan serutan pensil itu ke dalam sebuah box kecil berukirkan ukiran jepara kuno.

“Pak Tito, tolong siapkan mobil,” kata ibu Fia kepada supir pribadi keluarga Fia.

“Kita kemana bu?” kata pak Tito.

“Kita ke rumah ibu Mariana. Pak Tito masih ingat jalannya kan?” Tanya ibu Fia kepada pak Tito.

Pak Tito hanya mengangguk. Pak Tito bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa Ibu Aliana mau menemui ibu Mariana. Bukankah, karena dia suami ibu Aliana menghilang ke dalam serutan pensil 10 tahun yang lalu. Pak Tito, hanya memandang ibu Aliana lewat kaca mobil. Ibu Aliana sedikit gusar.

“Bu, kita sudah sampai,” kata pak Tito kemudian.

“Pak Tito, tunggu disini aja. Jika terjadi sesuatu pada saya. Pak Tito cukup hubungi orang yang ada di kertas ini,” Ibu Aliana menyerahkan secarik kertas, berisikan nama dan nomor telpon.

Di lihatnya ibu Aliana, berjalan berlahan menuju pintu rumah besar itu. Ada rasa kekhawatiran dihati pak Tito. Masih lekat diingatannya, 10 tahun yang lalu. Demi menyelamatkan suaminya. Ibu Aliana, harus menderita luka. Tangan kirinya, terluka cukup parah. Ibu Aliana menarik tangan suaminya yang tergulung hebat dan menghilang di dalam serutan pensil.Pak Tito tak habis pikir. Entah serutan pensil seperti apa yang bisa menyedot suami ibu Aliana begitu dasyatnya.

“Saya akan membantu sebisanya. Semoga anakmu cepat sembuh,” Ibu Fia berjalan menuju mobilnya. Kalau bukan karena Fia, tentu dia tak akan pernah menginjak rumah kediaman Baskoro. Seorang pria yang membuat orang yang dicintainya menghilang. Laki-laki yang ingin menggeser posisi suaminya di kantor. Laki-laki yang licik dan kotor. Dan sekarang, dia terbaring lemah di atas tempat tidur. Hanya ucapan kata maaf yang tiada henti yang didengarnya tadi.

Ketika mobil ibu Fia mulai meninggalkan rumah kediaman pak Baskoro. Sebuah motor skuter berwarna pink, masuk ke halaman rumah Baskoro.

“Bu, aku pulang. Sepi sekali,” katanya pelan.

“Ibu di kamar ayahmu Dea,” terdengar suara lembut memanggil Dea. Dea tampak terkejut melihat sebuah benda di atas meja kerja ayahnya. Benda yang seharusnya tak berada di rumahnya. Dan lebih mengejutkannya lagi. Dia melihat ayahnya berdiri dan tersenyum kepadanya. Ingin dia memeluk ayahnya erat. Tapi, ibunya melarang keras.

“Tetap berdiri disitu Dea. Kini saatnya kau mengetahui segalanya. Dia, yang kau lihat ini. Dia memang ayahmu. Dia, ayahmu, bukanlah sebangsa manusia seperti kita. Dia seorang peri kegelapan yang kabur dan tinggal di dunia kita. 30 tahun ibu menyembunyikan ini. Tapi, setelah ibu mengetahui. Kau memiliki kelebihan seperti ayahmu. Inilah waktu yang tepat kau mengetahui segalanya. Tentang ayahmu.” Dea hanya terdiam membisu. Dia, semakin tak mengerti maksud ibunya.

Tamat

Ket. Sebenarnya, ceritanya belum tamat. Berhubung, adminnya lagi sibuk. Jadi di tamatin sampai disini dulu. Cerita Selanjutnya, terserah adminnya 😜😜😜😜

Iklan

Fiksi Mae Rose : Cerbung Serutan Pensil (Part 1 s.d 3)


sumber : google.com

Intro

Sampah sisa serutan pensil masih bertebaran di atas meja. Tangannya masih asik menggambar sesuatu. Penghapus yang hampir habis dipegang erat dengan tangan kiri. Jangan ditanya, dimana letak wajahnya. Wajahnya hampir mencium kertas, sedikit lagi. Mungkin tinggal satu centi wajahnya menyentuh kertas.
Saturnus, orang-orang memanggilnya. Dia ahli dalam bidang animasi. Salah satu karyanya pernah memenangkan penghargaan internasional. Yang aku heran, hanya satu. Dia tak pernah berbicara dengan siapapun. Ketika ditanya, dia akan melengkungkan jari telunjuk dan jempolnya. Begitupun jika ditanya hal lain. Hanya senyuman dan bahu yang mengangkat. Mungkin, karena dia sibuk dengan gambar yang dibuatnya, sehingga dia seperti itu.

Aku sudah lama memperhatikan Saturnus. Ruanganku memang berbeda. Hanya saja, kaca transparan dan posisi mejaku yang menghadap mejanya. Membuatku leluasa melihat wajahnya yang kurus dan lonjong. Dengan kacamata minus yang menempel dihidung, menambah daya tarik seorang laki-laki bernama Saturnus itu meningkat.

***
Satu tahun sudah berlalu. Tapi sisa serutan pensil itu masih ada di atas meja. Setiapku keluar dari ruangan. Aku seperti melihatnya. Senyuman yang manis itu terkadang masih kurasakan sampai saat ini. Sampai sesuatu menyadarkanku. Bahwa senyuman itu telah pergi, bersama kertas-kertas yang tersedot hebat ke dalam lubang bernama serutan pensil.
______________________________________

Dea dan Serutan Pensil

Sore ini. Kurapikan berkas rapat di meja kerjaku. Otak kecilku, masih mengingat peristiwa tadi pagi. Angin besar seperti puting beliung tiba-tiba menghantam meja Saturnus. Saturnus menghilang! Angin itu membawanya ke dalam serutan pensil berbentuk beruang putih di atas mejanya. Semua orang hanya terdiam melihat kejadian itu.

“Saturnus hilang,” ucap staf keuangan sambil memelukku erat. Seisi kantor panik. Ada yang mencoba mengetuk serutannya. Bahkan ada yang teriak minta tolong dan panik. Pihak kantor, segera menelpon polisi. Kini, di depan meja Saturnus dipasang garis polisi.
“Bagaimana mungkin pak. Manusia bisa masuk ke dalam serutan pensil yang kecil ini?” kata seorang polisi yang mengolah TKP tadi pagi. Polisi itu, sempet tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya, dia juga ikut terhisap ke dalam serutan pensil itu.

“Hai Fi, belum pulang?,”
“Belum Dea, duluan aja,” kataku. Dea adalah karyawan baru. Dia diterima dikantor, berbarengan dengan Saturnus sebagai animator di kantorku. Tapi, dia bukan seorang animator. Dea seorang staf admin. Dia sangat cepat beradaptasi di lingkungan kantor. Dia sangat ramah. Semua orang menyukainya. Kecuali Endek, teman satu divisi denganku. Endek selalu bilang kepadaku, kalau Dea bukanlah manusia. Tapi, dia adalah seorang peri dari negeri Sentraland. Dea adalah kelompok bangsa peri yang jahat. Endek, memang suka membaca cerita fiksi bergenre fantasi. Terkadang, dia juga menyebut ibu Clara, bosku. Sebagai tukang sihir. Ibu Clara memang galak. Apalagi, ketika tugas kantor yang dia berikan tak kunjung selesai tepat waktu. Maka, dia akan mengomel tiada henti. Dan Endek, salah satu karyawan yang sering disemprot karena selalu salah memberikan hasil kerjanya.

Masih kuingat pesan Endek pagi tadi. “Ingat Fi, jangan sekali-kali kau pulang bersama Dea. Jika kau tidak mau hilang seperti Saturnus!” Aku sempat menertawakan Endek yang begitu curiga kepada Dea.
Sampai akhirnya. Apa yang aku lihat mematahkan tawaku pagi ini. Aku melihat sosok yang kukenal sangat berbeda. Apa benar dia bukan manusia? Apa benar yang Endek katakan?

“Ndek…ndek… dimana kamu? Kamu masih di kantor?”

Aku segera mengirim pesan singkat kepada Endek. Ayo Endek, dibaca. Aku ingin memperlihatkan apa yang aku tangkap dari kamera hpku tadi pagi.

“Klik” terdengar suara pesan masuk ke hpku.
“Aku masih di ruangan ibu Clara.”

Hampir 1 jam aku menunggu di ruangan kantor. Aku menunggu dengan gelisah. Endek tak kunjung datang. Setiap aku mengirim pesan singkat. Endek selalu bilang, dia masih di ruangan ibu Clara.
“Klik,” terdengar pesan masuk berbunyi.

“Fi, aku sudah pulang bersama ibu Clara. Tadi, ibu Clara memintaku untuk mengambil berkas penting di rumahnya. Sepulang dari rumah ibu Clara. Aku akan ke rumahmu,”

“Apa? Endek pergi bersama ibu Clara? Menyebalkan! Baiklah, aku akan menunggunya di rumah.” Gerutuku.
“Fia. Ada Endek!” Teriak ibu dari ruang tamu. Aku buru-buru ke bawah.
“Endek harus melihat ini, harus,” pikirku.
“Untung kau datang Ndek,” kataku senang.
“Maaf mbak, saya bukan mas Endek. Saya teman satu kostan dengan mas Endek,” kata pria berkacamata dihadapanku.

“Lah, Ndek kemana?” Tanyaku.
“Oh iya, hampir saya lupa. Ini surat dan ada tas berisi titipan dari mas Endek. Kata mas Endek, dia ga bisa ngasih tau mbak. Soalnya tadi buru-buru berangkat ke Sulawesi. Katanya disuruh survei tempat sama bosnya. Trus, mas Endek bilang. Nanti mbak bakal dihubungi. Ok mbak, saya pamit dulu. Permisi.” Laki-laki itu pamit dari hadapanku. Aku hanya memberi anggukan pelan saja.

“Endek…..,” teriakku didalam hati. Apa-apaan ini. Dia pergi, tanpa memberitahuku. Kemudian menitipkan barang ini dan tanpa bersalah dia tidak menelponku. Pasti didalam tas karton ini, berisi makanan kesukaanku. Agar aku melupakan apa yang dilakukan Endek.

Endek. Dia teman satu divisi denganku. Dia seniorku. Dia manajer keuangan. Dia yang selama ini mengurus keuangan kantor. Boleh dibilang, dia adalah orang yang dipercaya mengeluarkan uang di kantor. Jangan tanya betapa pelitnya Endek sebagai seorang akunting. Dia akan bertanya secara detail sampai keakar-akarnya untuk apa digunakan uangnya. Jika berurusan dengan Endek. Jangan bermimpi bisa selesai dalam hitungan detik. Bisa 1 hari atau 2 hari, pengajuan keuanganmu bisa cair.

Entah sejak kapan aku akrab dengan Endek. Seingatku, aku membantunya menyelesaikan masalah keuangan kantor yang sedikit bermasalah. Setelah itu, aku sangat akrab dengannya. Sudah hampir 2 tahun lebih aku bekerja di perusahaan IT ini. Perusahaan milik seorang warga negara asing yang menanam sahamnya di Indonesia. Dan sekarang, tepat hari ini menginjak tahun ketiga.

Kubuka tas karton pemberian Endek. Ada beberapa pernak pernik seperti giok di dalam tas. Setoples kecil kue satu juga ada di dalamnya. Diatasnya terdapat kertas yang dilipat seperti surat.

“Fi, sebelum lu baca nih surat sampai abis. Lu wajib makan kue satu yang tetap satu walaupun tuh kue banyak. Aku tahu kok Fi. Kamu pasti marah karena aku tak datang. Tapi, aku yakin. Marahmu berkurang, setelah satu toples kue itu masuk ke tenggorokanmu. Karena kue itu, sudah aku mantra dengan hebat hahaha. Oh ya, nanti aku akan menghubungimu setelah aku sampai di sana. Kau, boleh cerita apa saja kepadaku. Dan ingat, jangan marah lagi ok.

Salam
Endek.

Ah, Endek memang paling tahu. Jika sudah ada kue satu yang masuk ke mulutku. Kemarahanku tiba-tiba menjadi sirna. Kulihat kembali isi tas karton pemberian Endek. Kulihat giok hijau berbentuk hati dan giok berbentuk bulat tak sempurna.

Tiba-tiba, ketika aku mengambil giok berbent semakin terang. Cahayanya memenuhi seluruh ruangan kamar. Suara telpon masuk terdengar dari ponselku. Kakiku masih gemetar. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku tak sanggup berdiri. Bersusah payah aku mengambil ponsel. Kulihat, nama yang muncul di layar ponsel. Endek Keuangan. Belum sempat kuangkat ponselku. Seorang wanita cantik berdiri dihadapanku dan berusaha menarik tanganku. Giok yang berada di dalam tas karton mendadak keluar dari tempatnya. Melayang-layang tanpa arah. Cahayanya yang berwarna biru terang membuat wanita yang keluar dari serutan pensil di meja kamarku, hilang seperti abu. Yang terdengar hanya suara erangan kesakitan, diringi jatuhnya giok ke lantai.

“Fi, kamu enggak apa-apa nak?” Teriak ibu Fia dari luar kamar.
“Fi…,” teriak ibu Fia lagi.
“Gubrak”
Suara pintu didobrak terdengar. Fia terbaring lemas di lantai. Wajahnya pucat pasih. Fia langsung dilarikan ke rumah sakit.
***

Fia masih terbaring lemas di rumah sakit. Selang infus masih menempel di tangan Fia.

“Bagaimana dok? Apakah anak saya baik-baik saja?” Tanya ibu Fia kepada dokter yang merawat Fia.
“Kita lihat perkembangannya ya bu. Karena kepala anak ibu, mengalami benturan yang sangat keras. Kita akan selalu mengabarkan perkembangannya kepada ibu,”
“Tante, Fia kenapa?” Endek dan Dea tiba-tiba muncul di balik pintu kamar dimana Fia terbaring tak sadarkan diri.
“Entahlah nak Endek, tante tak mengerti. Setelah Fia masuk kamar. Tante mendengar Fia teriak histeris. Dan, seperti yang engkau lihat sekarang, Fia belum sadarkan diri,” cerita ibu Fia.
“Ndek, coba kau lihat tangan Fia!” Bisik Dea.
“Gambar itu? Aku seperti pernah melihatnya,” kata Endek setengah berbisik.
“Ada apa nak Endek?” Tanya ibu Fia.
“Enggak ada apa-apa bu,” jawab Endek sambil tersenyum.
“Oh ya, ibu boleh nitip Fia? Ibu mau ke ruang dokter sebentar.”
“Iya bu. Boleh.” Kata Dea.
“Ndek, aku yakin itu tanda yang sangat mirip dengan Saturnus. Tanda itu, selalu bersinar jika di dekatmu. Kau ingat. Saat dimana, kau bertengkar dengannya? Tiba-tiba, tato di punggung tangannya bersinar. Dan membuatmu hampir terpental? Jika saja, aku tak cepat menarikmu. Kau, mungkin sudah jatuh ke lantai dasar kantor. Dan sekarang, lihat gambar ditangan Fia bersinar”

“Aku masih bingung Dea. Aku masih belum mengerti. Hubungan antara serutan pensil itu dengan giok, yang kau antar ke rumah Fia. Kau tahu, aku masih merasa bersalah. Aku harus berbohong kepada Fia,”
“Setelah ini. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Dan kau, akan mengerti tentang giok itu.”
“Aduh, maaf ya. Ibu jadi merepotkan kalian berdua,” tiba-tiba ibu Fia muncul di hadapan Endek dan Dea.
“Enggak apa-apa tante, enggak merepotkan kok,” kata Dea dengan wajah sedikit senyum.
“Apa kata dokter bu?” Tanya Endek kemudian
“Jika, 2, 3 hari kedepan. Fia tidak sadarkan diri. Ada kemungkinan, Fia akan dioperasi. Ada pendarahan kecil di otaknya. Dokter masih melihat berkembangan. Jika semakin memburuk, Fia …” ibu Fia tiba-tiba menangis. Dea langsung memeluk ibu Fia.
“Mudah-mudahan, tidak kenapa-kenapa ya bu,” kata Dea menenangkan ibu Fia.

***

Ibu Fia kembali ke rumah. Dilihatnya, kamar Fia, berantakan. Seperti ada kejadian yang luar biasa terjadi di kamar Fia.

“Apakah, kejadian itu terulang kembali? Smoga saja tidak,” gumam ibu Fia.
Matanya mengamati keseluruh sudut kamar. Tangannya mengambil semua barang Fia yang tergeletak di lantai. Diletakkanya kembali barang itu di meja.
“Serutan pensil yang cantik,” pikir ibu Fia. Tapi, ketika ibu Fia melihat detail bentuk dan ukiran serutan pensil itu. Ibu Fia langsung membungkusnya dengan saputangan ditangannya. Serutan pensil itu, bergerak.
“Apa yang kau lakukan. Kau mau melawanku lagi Aliana, lepaskan aku. Atau anakmu akan bernasib sama denganmu” suara parau wanita terdengar disekitar kamar. Ibu Fia, hanya tersenyum. Dia tahu siapa pemilik suara jelek itu. Serutan pensil itu, terbungkus rapat di dalam saputangan yang basah karena airmata.

Bersambung

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensil (part 3)


Cerita sebelumnya :

Fia ingin menunjukkan sesuatu kepada Endek. Tapi sayang, Endek tak datang, hanya sebuah bingkisan yang diterima Fia yakni sebuah giok. Giok yang menyelamatkan Fia dari wanita yang tiba-tiba muncul dari serutan pensil.

—————————————————–

“Fii, kamu enggak apa-apa nak?” Teriak ibu Fia dari luar kamar.

“Fi…,” teriak ibu Fia lagi.

“Gubrak”

Suara pintu didobrak terdengar. Fia terbaring lemas di lantai. Wajahnya pucat pasih. Fia langsung dilarikan ke rumah sakit.

***

Fia masih terbaring lemas di rumah sakit. Selang infus masih menempel di tangan Fia.

“Bagaimana dok? Apakah anak saya baik-baik saja?” Tanya ibu Fia kepada dokter yang merawat Fia.

“Kita lihat perkembangannya ya bu. Karena kepala anak ibu, mengalami benturan yang sangat keras. Kita akan selalu mengabarkan perkembangannya kepada ibu,”

“Tante, Fia kenapa?” Endek dan Dea tiba-tiba muncul di balik pintu kamar dimana Fia terbaring tak sadarkan diri.

“Entahlah nak Endek, tante tak mengerti. Setelah Fia masuk kamar. Tante mendengar Fia teriak histeris. Dan, seperti yang engkau lihat sekarang, Fia belum sadarkan diri,” cerita ibu Fia.

“Ndek, coba kau lihat tangan Fia!” Bisik Dea.

“Gambar itu? Aku seperti pernah melihatnya,” kata Endek setengah berbisik.

“Ada apa nak Endek?” Tanya ibu Fia.

“Enggak ada apa-apa bu,” jawab Endek sambil tersenyum.

“Oh ya, ibu boleh nitip Fia? Ibu mau ke ruang dokter sebentar.”

“Iya bu. Boleh.” Kata Dea.

“Ndek, aku yakin itu tanda yang sangat mirip dengan Saturnus. Tanda itu, selalu bersinar jika di dekatmu. Kau ingat. Saat dimana, kau bertengkar dengannya? Tiba-tiba, tato di punggung tangannya bersinar. Dan membuatmu hampir terpental? Jika saja, aku tak cepat menarikmu. Kau, mungkin sudah jatuh ke lantai dasar kantor. Dan sekarang, lihat gambar ditangan Fia bersinar”

“Aku masih bingung Dea. Aku masih belum mengerti. Hubungan antara serutan pensil itu dengan giok, yang kau antar ke rumah Fia. Kau tahu, aku masih merasa bersalah. Aku harus berbohong kepada Fia,” 

“Setelah ini. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Dan kau, akan mengerti tentang giok itu.”

“Aduh, maaf ya. Ibu jadi merepotkan kalian berdua,” tiba-tiba ibu Fia muncul di hadapan Endek dan Dea.

“Enggak apa-apa tante, enggak merepotkan kok,” kata Dea dengan wajah sedikit senyum.

“Apa kata dokter bu?” Tanya Endek kemudian.

“Jika, 2, 3 hari kedepan. Fia tidak sadarkan diri. Ada kemungkinan, Fia akan dioperasi. Ada pendarahan kecil di otaknya. Dokter masih melihat berkembangan. Jika semakin memburuk, Fia …” ibu Fia tiba-tiba menangis. Dea langsung memeluk ibu Fia.

“Mudah-mudahan, tidak kenapa-kenapa ya bu,” kata Dea menenangkan ibu Fia.

***

Ibu Fia kembali ke rumah. Dilihatnya, kamar Fia, berantakan. Seperti ada kejadian yang luar biasa terjadi di kamar Fia. 

“Apakah kejadian itu terulang kembali? Smoga saja tidak,” gumam ibu Fia. 

Matanya mengamati keseluruh sudut kamar. Tangannya mengambil semua barang Fia yang tergeletak di lantai. Diletakkanya kembali barang itu di meja. 

“Serutan pensil yang cantik,” pikir ibu Fia.

Tapi, ketika ibu Fia melihat detail bentuk dan ukiran serutan pensil itu. Ibu Fia langsung membungkusnya dengan saputangan ditangannya. Serutan pensil itu, bergerak. 

“Apa yang kau lakukan. Kau mau melawanku lagi Aliana, lepaskan aku. Atau anakmu akan bernasib sama denganmu” suara parau wanita terdengar disekitar kamar. Ibu Fia, hanya tersenyum. Dia tahu siapa pemilik suara jelek itu. Serutan pensil itu, terbungkus rapat di dalam saputangan yang basah karena airmata.

Bersambung


Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensil (part 2)


Dea dan Serutan Pensil

Cerita sebelumnya. Di kantor Fia sedang dilakukan olah TKP. Polisi yang menyelidiki kemana Saturnus menghilang tersedot ke dalam serutan pensil. Fia melihat sosok yang tak biasa ketika dia sedang mengambil foto dengan kameranya.

————————-

“Fia. Ada Endek!” Teriak ibu dari ruang tamu. Aku buru-buru ke bawah.

“Endek harus melihat ini, harus,” pikirku.

“Untung kau datang Ndek,” kataku senang.

“Maaf mbak, saya bukan mas Endek. Saya teman satu kostan dengan mas Endek,” kata pria berkacamata dihadapanku.

“Lah, Ndek kemana?” Tanyaku.

“Oh iya, hampir saya lupa. Ini surat dan ada tas berisi titipan dari mas Endek. Kata mas Endek, dia ga bisa ngasih tau mbak. Soalnya tadi buru-buru berangkat ke Sulawesi. Katanya disuruh survei tempat sama bosnya. Trus, mas Endek bilang. Nanti mbak bakal dihubungi. Ok mbak, saya pamit dulu. Permisi.” Laki-laki itu pamit dari hadapanku. Aku hanya memberi anggukan pelan saja.

“Endek…..,” teriakku didalam hati. Apa-apaan ini. Dia pergi, tanpa memberitahuku. Kemudian menitipkan barang ini dan tanpa bersalah dia tidak menelponku. Pasti didalam tas karton ini, berisi makanan kesukaanku. Agar aku melupakan apa yang dilakukan Endek.

Endek. Dia teman satu divisi denganku. Dia seniorku. Dia manajer keuangan. Dia yang selama ini mengurus keuangan kantor. Boleh dibilang, dia adalah orang yang dipercaya mengeluarkan uang di kantor. Jangan tanya betapa pelitnya Endek sebagai seorang akunting. Dia akan bertanya secara detail sampai keakar-akarnya untuk apa digunakan uangnya. Jika berurusan dengan Endek. Jangan bermimpi bisa selesai dalam hitungan detik. Bisa 1 hari atau 2 hari, pengajuan keuanganmu bisa cair.

Entah sejak kapan aku akrab dengan Endek. Seingatku, aku membantunya menyelesaikan masalah keuangan kantor yang sedikit bermasalah. Setelah itu, aku sangat akrab dengannya. Sudah hampir 2 tahun lebih aku bekerja di perusahaan IT ini. Perusahaan milik seorang warga negara asing yang menanam sahamnya di Indonesia. Dan sekarang, tepat hari ini menginjak tahun ketiga.

Kubuka tas karton pemberian Endek. Ada beberapa pernak pernik seperti giok di dalam tas. Setoples kecil kue satu juga ada di dalamnya. Diatasnya terdapat kertas yang dilipat seperti surat.

“Fi, sebelum lu baca nih surat sampai abis. Lu wajib makan kue satu yang tetap satu walaupun tuh kue banyak. Aku tahu kok Fi. Kamu pasti marah karena aku tak datang. Tapi, aku yakin. Marahmu berkurang, setelah satu toples kue itu masuk ke tenggorokanmu. Karena kue itu, sudah aku mantra dengan hebat hahaha. Oh ya, nanti aku akan menghubungimu setelah aku sampai di sana. Kau, boleh cerita apa saja kepadaku. Dan ingat, jangan marah lagi ok.

Salam

Endek.

Ah, Endek memang paling tahu. Jika sudah ada kue satu yang masuk ke mulutku. Kemarahanku tiba-tiba menjadi sirna. Kulihat kembali isi tas karton pemberian Endek. Kulihat giok hijau berbentuk hati dan giok berbentuk bulat tak sempurna.

Tiba-tiba, ketika aku mengambil giok berbentuk bulat. Giok berbentuk hati memancarkan cahaya terang. Cepat ku lempar tas karton itu kedinding.

Sudah 5 menit. Giok itu masih bercahaya. Aku masih disudut  dinding kamar memeluk kedua kakiku, kakiku mendadak gemetar. Cahayanya semakin terang. Cahayanya memenuhi seluruh ruangan kamar.

Suara telpon masuk terdengar dari ponselku. Kakiku masih gemetar. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku tak sanggup berdiri. Bersusah payah aku mengambil ponsel. Kulihat, nama yang muncul di layar ponsel. Endek Keuangan. Belum sempat kuangkat ponselku. Seorang wanita cantik berdiri dihadapanku dan berusaha menarik tanganku. Giok yang berada di dalam tas karton mendadak keluar dari tempatnya. Melayang-layang tanpa arah. Cahayanya yang berwarna biru terang membuat wanita yang menarikku hilang seperti abu. Yang terdengar hanya suara erangan kesakitan, diringi jatuhnya giok ke lantai.

Bersambung


 

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensil (Part I)


Sumber : mbah google

Dea dan Serutan Pensil 

Sore ini. Kurapikan berkas rapat di meja kerjaku. Otak kecilku, masih mengingat peristiwa tadi pagi. Angin besar seperti puting beliung tiba-tiba menghantam meja Saturnus. Saturnus menghilang! Angin itu membawanya ke dalam serutan pensil berbentuk beruang putih di atas mejanya. Semua orang hanya terdiam melihat kejadian itu.

“Saturnus hilang,” ucap staf keuangan sambil memelukku erat. Seisi kantor panik. Ada yang mencoba mengetuk serutannya. Bahkan ada yang teriak minta tolong dan panik. Pihak kantor, segera menelpon polisi. Kini, di depan meja Saturnus dipasang garis polisi.

“Bagaimana mungkin pak. Manusia bisa masuk ke dalam serutan pensil yang kecil ini?” kata seorang polisi yang mengolah TKP tadi pagi. Polisi itu, sempet tertawa terbahak-bahak. Sampai akhirnya, dia juga ikut terhisap ke dalam serutan pensil itu.

Hai Fi, belum pulang?,”

“Belum Dea, duluan aja,” kataku. Dea adalah karyawan baru. Dia diterima dikantor, berbarengan dengan Saturnus sebagai animator di kantorku. Tapi, dia bukan seorang animator. Dea seorang staf admin. Dia sangat cepat beradaptasi di lingkungan kantor. Dia sangat ramah. Semua orang menyukainya. Kecuali Endek, teman satu divisi denganku. Endek selalu bilang kepadaku, kalau Dea bukanlah manusia. Tapi, dia adalah seorang peri dari negeri Sentraland. Dea adalah kelompok bangsa peri yang jahat. Endek, memang suka membaca cerita fiksi bergenre fantasi. Terkadang, dia juga menyebut ibu Clara, bosku. Sebagai tukang sihir. Ibu Clara memang galak. Apalagi, ketika tugas kantor yang dia berikan tak kunjung selesai tepat waktu. Maka, dia akan mengomel tiada henti. Dan Endek, salah satu karyawan yang sering disemprot karena selalu salah memberikan hasil kerjanya.

Masih kuingat pesan Endek pagi tadi. “Ingat Fi, jangan sekali-kali kau pulang bersama Dea. Jika kau tidak mau hilang seperti Saturnus!” Aku sempat menertawakan Endek yang begitu curiga kepada Dea.

Sampai akhirnya. Apa yang aku lihat mematahkan tawaku pagi ini. Aku melihat sosok yang kukenal sangat berbeda. Apa benar dia bukan manusia? Apa benar yang Endek katakan?


“Ndek…ndek… dimana kamu? Kamu masih di kantor?” 

Aku segera mengirim pesan singkat kepada Endek. Ayo Endek, dibaca. Aku ingin memperlihatkan apa yang aku tangkap dari kamera hpku tadi pagi.

“Klik” terdengar suara pesan masuk ke hpku.

“Aku masih di ruangan ibu Clara.” 

Hampir 1 jam aku menunggu di ruangan kantor. Aku menunggu dengan gelisah. Endek tak kunjung datang. Setiap aku mengirim pesan singkat. Endek selalu bilang, dia masih di ruangan ibu Clara.

“Klik,” terdengar pesan masuk berbunyi.

“Fi, aku sudah pulang bersama ibu Clara. Tadi, ibu Clara memintaku untuk mengambil berkas penting di rumahnya. Sepulang dari rumah ibu Clara. Aku akan ke rumahmu,”

“Apa? Endek pergi bersama ibu Clara? Menyebalkan! Baiklah, aku akan menunggunya di rumah.” Gerutuku.

Bersambung

Fiksi Mae Rose : Cerbung


Bagi pembaca setia blog catatanmae. Setiap hari Senin, saya akan mencoba posting cerita bersambung (cerbung) yang berjudul SERUTAN PENSIL. Jika sudah membaca ceritanya. Boleh loh, dikritik cerbungnya. Karena tanpa kritikan dari kalian para pembaca setia. Apalah arti blog ini. Terutama Fiksinya. 

Ok, selamat membaca. Semoga suka ceritanya. 
Salam
Mae Rose 😍😍😍😍

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Serutan Pensil 


image

Sumber : google.com

Sampah sisa serutan pensil masih bertebaran di atas meja. Tangannya masih asik menggambar sesuatu. Penghapus yang hampir habis dipegang erat dengan tangan kiri. Jangan ditanya, dimana letak wajahnya. Wajahnya hampir mencium kertas, sedikit lagi. Mungkin tinggal satu centi wajahnya menyentuh kertas.

Saturnus, orang-orang memanggilnya. Dia ahli dalam bidang animasi. Salah satu karyanya pernah memenangkan penghargaan internasional. Yang aku heran, hanya satu. Dia tak pernah berbicara dengan siapapun. Ketika ditanya, dia akan melengkungkan jari telunjuk dan jempolnya. Begitupun jika ditanya hal lain. Hanya senyuman dan bahu yang mengangkat. Mungkin, karena dia sibuk dengan gambar yang dibuatnya, sehingga dia seperti itu.

Aku sudah lama memperhatikan Saturnus. Ruanganku memang berbeda. Hanya saja, kaca transparan dan posisi mejaku yang menghadap mejanya. Membuatku leluasa melihat wajahnya yang kurus dan lonjong. Dengan kacamata minus yang menempel dihidung, menambah daya tarik seorang laki-laki bernama Saturnus itu meningkat.

***

Satu tahun sudah berlalu. Tapi sisa serutan pensil itu masih ada di atas meja. Setiapku keluar dari ruangan. Aku seperti melihatnya. Senyuman yang manis itu terkadang masih kurasakan sampai saat ini. Sampai sesuatu menyadarkanku. Bahwa senyuman itu telah pergi, bersama kertas-kertas yang tersedot hebat ke dalam lubang bernama serutan pensil.

Bersambung