Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Part 4)


“Pak, bagaimana klo minta bantuan Pak kades, dari pada kita bingung sendiri mencari Sunni,” usul Ibu Sunni.

“Ibu, tunggu di sini,” Bapak Sunni bergegas menuju rumah Pak kades. Beruntung, di tengah perjalanan bertemu Pak kades. Kemudian, menceritakan prihal kehilangan Sunni.
“Nah ini dia, tadi saya baru saja ke kampung sebelah. Banyak anak-anak hilang di kampungnya. Sama kayak Bapak. Setelah dzuhur, kita kumpul di balai desa,” kata Pak kades.
Seluruh warga kampung dan warga kampung tetangga mulai berdatangan ke balai desa. Beberapa warga yang kehilangan anaknya saling bertukar cerita.
“Bagaimana selanjutnya Pak kades?” tanya salah satu warga.
“Bapak-bapak, apakah kalian membawa barang-barang yang saya sebutkan tadi? Kalau begitu kita akan masuk ke dalam hutan di pinggir desa. Ingat, jangan terpisah dari rombongan,” kata Pak kades.
Para warga bersama Pak kades mulai memasuki hutan. Diantara mereka ada yang membawa kayu, panci, senter bahkan tongkat baseball. Entah apa sangkut pautnya barang itu dibawa masuk ke dalam hutan, yang jelas, kata salah satu warga, barang itu untuk mengusir hantu di dalam hutan.
“Win, hayo. Nanti kita tertinggal!” Wina dan Bunni bergegas mengikuti warga dari belakang. Mereka berdua mengikuti warga secara diam-diam.
“Bun, apa yang kau bawa di dalam ranselmu?” tanya Wina pelan.
“Roti, air minum, plester, obat luka, senter dan bawang putih Win,” jawab Buni.
“Bawang putih? Untuk apa kau membawa bawang putih?” tanya Wina.
“Ya, siapa tahu, makhluk hutan ini, sejenis vampir. Vampirkan tidak suka bawang putih,” jawab Bunni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Dasar, tukang nonton tv,” gerutu Wina.
“Win, apa sebaiknya kita pulang saja? Bulu kudukku mulai berdiri,” kata Buni sedikit takut.
“Silakan kalau kamu mau pulang. Aku tetap mau mencari Sunni. Dia temanku, Sunni selalu membantu, jika aku diganggu anak-anak berengsek di sekolah. Sekarang, saatnya aku membalas kebaikannya. Walaupun Sunni itu kakinya bau dan suka banyak makan. Dia tetap temanku, Bun!” ucap Wina dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi Win, bagaimana kalau kita tertangkap makhluk itu?” tanya Buni.
“Ya sudah, kamu pulang saja! Anak manja,” jawab Wina ketus.
“Baik aku pulang,” kata Buni. Baru saja Buni membalikkan badan hendak pulang. Tiba-tiba dia berbalik kembali ke arah Wina.
“Katanya mau pulang? terus mengapa kau berbalik lagi!” tanya Wina, ketika melihat Buni sudah berada disampingnya.
“Kau lihat, kita sudah ditengah hutan. Bagaimana aku bisa pulang,” ucap Buni.

Buni memiliki badan kecil, dia sering dijuluki si kancil di sekolah, karena kecepatan berlarinya. Buni, pernah mengikuti lomba lari tingkat kecamatan dan berhasil menduduki posisi pertama. Baru-baru ini, juara kedua lomba lari tingkat nasional. Sebenarnya Buni bukalah serorang penakut, Buni sangat pemberani. Semenjak melihat makhluk itu, Buni sedikit takut. Buni tak ingin bertemu dan melihat makhluk seram itu lagi.

Wina, dia seorang gadis biasa, berkacamata minus 3. Seorang siswa kelas 6 SD. Tak ada yang istimewa dari Wina, kecuali dia memiliki penglihatan yang tidak dimiliki siapapun. Mata Wina sebelah kiri bisa melihat sempurna di kegelapan, matanya seperti mata kucing. Tak ada yang mengetahui kelebihan Wina termasuk orangtuanya. Hanya Sunni yang tahu, kalau Wina memiliki mata seperti kucing.

Bersambung.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Buku Antalogi Stolen Heart


STOLEN HEART 💔💔💔

Ketika nafsu terpenjara dalam gelapnya asa, semua kata pun menjadi luahan rasa. Sakit, benci, marah dan juga cinta itu sendiri, menjadi satu mengaduk ceruk hati.

Cela akan banyak diterima. Meski semua bukan kesalahan satu pihak semata, karena ada sisi hati terbuka yang menjadi peluang masuknya yang ketiga.

Cinta tidak pernah salah. Namun, manusialah yang salah dalam menempatkannya. Bisa saja segala intrik akan dimainkan sebagai pengganggu keharmonisan ritme nada dan alunan lagu dalam rumah tangga. Memporakporandakan surga yang bernama keluarga.

Dia akan datang sebagai yang ketiga. Yang ketiga itu, bisa saja, aku, kamu, dia, atau mereka?

NB : ada cerpenku juga loh di dalamnya 😊😊😊😊

Info Pemesanan : 0838 255 18329

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Part 3)


“Makanlah Sunni,” kata makhluk itu, diikuti suara tawa yang memekakkan telinga.
Di dalam rumah tua, Sunni semakin ketakutan. Sunni melihat tubuh anak-anak yang sudah mati. Bahkan, ada yang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan belatung, di sana terlihat makanan yang disajikan makhluk itu, tanah lumpur berbau busuk dan dikerubuti lalat.
“Aku harus keluar dari sini,” ucapnya pelan, dengan sisa tenaga, kaki yang penuh luka. Sunni berusaha menggapai gagang pintu. Beberapa kali, dia tersenggol mayat anak-anak di samping kiri dan kanannya. Tangan Sunni berhasil menggapai gagang pintu. Tapi, tas ransel Sunni seperti tersangkut. Sunni, menoleh ke belakang dengan hati berdebar, tasnya tidak tersangkut. Melainkan, di tarik. Seorang anak, menarik tas ransel Sunni dan anak itu, berusaha berbicara kepada Sunni.
“Bawa kalung ini, dan cepat pergi dari sini. Sebelum kau bernasib sama dengan kami,” dengan suara yang tercekal di leher dia menyerahkan sebuah kalung berbentuk hati yang di hiasi batu permata berwarna hijau.
“Ba…ba..bagaimana dengan kamu,” ucap Sunni terbata-bata.
“Jangan hiraukan aku, pergi!” Sunni langsung keluar dari rumah tua itu. Dari kejauhan, Sunni masih melihat anak perempuan itu tergeletak di depan pintu. Sunni, bersembunyi di balik pohon besar yang tidak jauh dari rumah tua. Sunni mengikat kaki kirinya yang terluka dengan saputangan.
Dari jauh, terdengar suara marah makhluk berbulu. Beberapa mayat terlempar keluar, bahkan ada yang terpental dan jatuh tepat di samping Sunni. Sunni hanya bisa menutup mulutnya.

Sayup, terdengar suara adzan ashar dari masjid kampung. Makhluk itu berlari masuk ke dalam rumah tua dan membanting pintunya keras.

Sunni menyeret kakinya yang terluka. Sunni, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tepi hutan. Namun, kakinya yang terluka parah, membuat langkahnya terhenti. Padahal, tinggal berapa langkah lagi, Sunni bisa keluar dari hutan. Sunni merebahkan badannya di pohon.

Mungkin, masih ada beberapa plester luka di tas.

Sunni, membuka tas. Mencari plester luka yang biasa di bawa ke sekolah.

Perutku lapar.

Sunni memegang perutnya, kemudian mengambil kotak bekalnya. Beruntung, di dalamnya masih tersisa roti selai coklat dan satu kotak susu.

“Au,” Sunni sedikit mengaduh. Sunni menempelkan beberapa plester di kakinya. Sunni perlahan memejamkan matanya. Sunni, tertidur karena menahan rasa sakit yang teramat sangat di kakinya.

***

Sementara di desa, Ayah dan Ibu Sunni berusaha mencari Sunni. Mereka mencari disegala penjuru desa. Tak satupun warga yang melihat Sunni.
“Kamu kemana toh nduk?,” ucap Ibu Sunni sambil memeluk bantal kecil kesayangan Sunni.

Bersambung.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Part 2)


“Hutan ini tidak seram, hayo kita ke dalam dan bermain di sana. Di sana banyak mainan dan kue,” Sunni berusaha meyakinkan dua orang temannya agar ikut dengannya.
“Dasar kalian, penakut!” Sunni akhirnya masuk sendiri ke dalam hutan. Sunni tampak riang, ketika seorang wanita menyambutnya dengan hangat.
“Mengapa mereka tidak ikut denganmu Sunni?” kata wanita itu kemudian.
“Ah, mereka penakut. Terlalu banyak mendengar cerita dongeng,” ucap Sunni dengan kesal.
“Besok, ketika kau kembali lagi kesini. Kau harus mengajak mereka,” Sunni mengangguk cepat.

Mata wanita itu merah menyala. Jari jemari, kuku yang menjuntai panjang tampak membelai kepala Sunni lembut. Mulutnya mengeluarkan bau tak sedap. Dari giginya yang panjang, menetes air yang membuat perut mual.

Namun, Sunni tidak menyadari hal itu. Mata Sunni seperti tersihir, di depannya hanyalah seorang wanita cantik bak putri raja.

Sunni begitu riang. Sunni bermain, tanpa memperdulikan sinar matahari yang mulai beranjak pergi. Sampai akhirnya, suara adzan magrib menyadarkan Sunni. Sunni berlari keluar hutan, berlari dengan kencang.
“Kamu dari mana saja Sunni? Magrib kok baru pulang? Cepat kamu mandi! Badanmu bau lumpur,” ucap Ibu Sunni lembut.
Sunni bergegas ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Sunni hanya memainkan air di ember. Di otaknya, timbul berbagai pertanyaan.

Mengapa wanita itu selalu meninggalkanku sendiri? Apalagi, ketika adzan terdengar! Kue dan mainan yang aku mainkan, selalu menghilang, berubah menjadi tumpukan batu. Siapakah sebenarnya dia? Besok, aku akan bertanya kepadanya. Mengapa dia selalu menghilang, berlari ke sebuah gubuk di tengah hutan dan meninggalkanku sendiri!

Keesokan paginya, setelah pulang sekolah, Sunni langsung berlari ke hutan. Tapi, tidak mendapati wanita itu di sana. Hanya pohon-pohon besar dan rumah tua yang hampir roboh di tengah hutan. Sunni berjalan perlahan mendekati rumah tua. Sunni berpikir, mungkin wanita itu ada di sana. Rasa takut, tiba-tiba menghampiri Sunni. Sunni, menutup mulutnya dan berusaha mencari persembunyian.
Makhluk apa tadi? Berbulu, kukunya sangat tajam dan berbau busuk. Makhluk itu masuk ke dalam rumah itu. Apakah wanita itu tinggal bersama makhluk itu?
“Sunni,” terdengar suara lembut memanggil namanya. Diikuti suara tawa yang menyeramkan dan membuat Sunni enggan menoleh ke belakang. Sunni merasakan ada yang menetes di bahunya. Baunya sangat busuk.
“Mana teman-temanmu Sunni,” jari jemari makhluk itu menyentuh bahu Sunni.

Badan Sunni bergetar hebat. Sunni, tidak menyangka, wanita yang mengajaknya bermain, menyediakan makanan enak adalah makhluk yang sering diceritakan Ibunya. Sunni berusaha berlari, menghindari makhluk itu. Sunni jatuh tersungkur. Makhluk itu berusaha meraih kakinya.

“Pergi… pergi…” Sunni hanya mampu berteriak, ketika dia di seret ke dalam gubuk tua.
Bersambung.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Fiksi Mae Rose : Cerpen – Hanya Sebuah Suara


Sumber : unknow

Suara itu kembali terdengar. Suara ketukan di atas genting. Setiap malam selalu terdengar, lebih tepatnya dini hari.

***

“Ngomong-ngomong, kalian dengar tidak? Tadi malam, ada suara aneh di atas genting?” kata iparku Susi .

“Ooo, itu, ada burung di atas genting,” jawab Ibu mertuaku.

“Masak sih burung,” kata Susi tak percaya.

“Hei, kau Lulu. Tadi malam, kau dengar suara ketukan di atas genting?” tanya Susi kepadaku.

“Kau bertanya sama dia. Dia kalau tidur, tidur mati,” sela kakak iparku Pipit yang sifatnya sekali tiga uang dengan Susi.

Aku yang ditanya diam saja. Aku malas menjawabnya, karena jikaku jawab, mereka akan menertawakanku. Lebih baik, aku mengantar suamiku ke kantor, dari pada meladeni dua mulut itu.

“Baik-baik di rumah,” kata suamiku, Tri. Kukecup punggung tangan suamiku.

Pagi ini, dia berangkat kerja tanpa motor. Motornya rusak, sedang diperbaiki di bengkel. Kemarin sore, suami Susi meminjam motor suamiku, dia menabrak sebuah mobil yang terparkir disebuah mini market. Beruntung, yang punya mobil tidak meminta ganti rugi. Jika minta rugi, pasti suamiku juga yang menggantikannya. Sekarang, suami Susi masih di rumah sakit. Kakinya patah, tertimpa badan motor.

“Nyonya Tri, mau masuk. Kasih jalan,” ejek Susi, ketika aku menutup pintu.

Andai aku bisa menjawab ejekannya, mungkin aku akan berkelahi dengannya. Sayang, aku masih menghormati mertuaku. Jika tidak, sudah kutampar wajahnya.

“Kamu ini Susi, bukannya siap-siap ke rumah sakit. Malah asik ngejekin orang. Kalau bukan karena Tri, suamimu itu enggak akan dioperasi kakinya, ga tahu malu,” omel Ibu mertuaku, diikuti wajah Susi yang berubah tidak senang. Susi, langsung pergi tanpa pamit.

“Lihat, menantu enggak tahu diri. Pamit sama mertuanya enggak, malah nyelonong seenak jidatnya,” gerutu Ibu mertuaku kesal.

Susi memang tak begitu akur dengan mertuaku. Dia selalu membuat Ibu mertuaku mengomel pagi-pagi. Mulai dari bangun kesiangan, tidak mencuci piring sampai hobbynya yang selalu bergosip menjadi alasan mengapa Ibu mertuaku tidak menyukainya.

***

Malam ini, semua berkumpul di meja makan. Suamiku, yang biasanya pulang larut, kali ini pulang lebih awal.

“Tri, istrimu ini diajarin bergaul. Biar enggak kuper,” kata Pipit, kakak iparku.

“Nah, mulai lagi. Belum puas juga, tadi udah bikin malu Lulu. Sekarang, makanpun mau ribut juga,” bentak ibu mertuaku dan itu membuatku tersenyum puas.

“Lah, salah dia juga,” ucap kakak iparku membela diri.

“Mulut kamu itu yang seharusnya dijaga, pantas saja suami pertamamu menceraikanmu. Tingkahmu itu, yang seharusnya bikin kau sadar, Pit!” suara mertuaku terdengar meninggi.

Suasana meja makan mendadak panas, Pipit membanting piringnya di meja, kemudian dia masuk ke dalam kamar.

“Sudahlah Bu, ayo kita lanjutkan makan,” kata suamimu.

“Gimana enggak marah, Tri. Kalau enggak istri adekmu, ya tuh kakakmu. Kerjaannya cari kesalahan orang, ngegosip. Klo adekmu, punya kerja. Udah Ibu suruh dia ngontrak. Ibu dari dulu, ga suka sama istrinya itu, ditambah kakakmu itu. Suruh dia cepat-cepat nikah!” kata Ibu mertuaku kesal.

Kuakui, memang Susi dan kakak iparku itu sangat menyebalkan. Tapi, mau diapain lagi. Tinggal satu atap dengan ipar itu, benar-benar tidak mengenakan. Semua dikomentari, beruntung aku mendapatkan mertua yang bisa melihat mana yang benar dan salah. Jika tidak, mungkin aku bakal stress.

“Jangan dimasukin ke hati. Kak Pit, memang gitu orangnya. Mudah-mudahan dia cepet dapet jodoh,” kata suamiku, ketika kami berbicara di kamar.

Ingin aku bercerita, bagaimana perlakuan kakak dan istri adiknya, jika tidak ada ibu mertua di rumah. Aku hanya bisa menahan sakit hati yang teramat sangat. Tapi, percuma saja. Jika aku bercerita, yang ada hanya aku yang disalahkan suamiku. Dia pikir hatiku terbuat dari baja. Sehingga setiap hinaan bakal mental dengan sendirinya.

Malam semakin larut, mataku tidak bisa diajak kompromi. Suara suamiku yang berceramah tentang kebaikan berbuat baik seperti dongeng penghantar tidur. Akupun terlelap.

Udara menjelang tengah malam, teramat dingin menusuk tulang. Aku menarik selimutku rapat. Sayup, mulai terdengar suara ketukan di atas genting, seperti suara ayam mematuk jagung.

Ish, berisik benar suaranya.

Kututup telingaku dengan bantal. kucoba melanjutkan tidur. Lama kelamaan, suara itu tampak berbeda. Kulirik jam dinding di kamar. Jam dua dini hari. Aku mulai penasaran, ingin melihat, benda apa yang selalu berbunyi setiap malam. Apa benar itu burung? Atau ada benda lain seperti manusia yang ingin mencuri? Kubuka pintu kamar perlahan, sambil memegang senter kecil. Kuberanikan diri, menaiki loteng di ujung dapur.

Suara itu semakin jelas di telinga. Kuarahkan cahaya ke seluruh ruangan. Tak ada yang mencurigakan. Aku mulai memberanikan diri melangkah memasuki loteng. Langkahku seketika terhenti. Aku melihat burung raksasa dibalik jendela loteng, burung itu mematuk dengan paruhnya yang tajam. Daun jendela hampir terbuka dibuatnya. Kuarahkan cahaya senter. Aku menelan ludah, yang mematuk daun jendela bukanlah burung, melainkan sosok makhluk aneh, bersayap, seperti burung gagak. Sorot matanya yang tajam dan berwarna merah, menatapku sinis. Dia menyeringai, kemudian terbang tinggi ke langit.

Tamat

Cileunyi, 22 Agustus 2019

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Part 1)


“Bun, Win, kita kesana,” teriak Sunni. Wina, Sunni, dan Buni adalah teman satu sekolah. Mereka sering bermain bersama. Ketika tugas sekolah telah mereka kerjakan, mereka akan bermain di tanah lapang dekat balai desa. Tapi, kali ini, Sunni mengajak Buni dan Wina pergi ke hutan di pinggir desa.

“Sun, kita bermain di tempat biasa saja,” kata Wina.
“Jangan bermain didekat hutan itu Sun! Ibuku pernah bilang, hutan itu berhantu,” Buni menyakinkan Sunni.
“Ya sudah, kalau kalian tidak mau. Aku saja yang bermain di sana,” kata Sunni, kemudian Sunni berjalan seorang diri memasuki hutan yang lebat.
Buni dan Wina saling bertatapan. Mereka sangat takut untuk mengikuti Sunni masuk ke dalam hutan, sedangkan Buni, masih mengingat cerita Ibunya, Ibunya pernah bercerita, kalau hutan itu ada penjaganya. Dia bisa memakan siapa saja yang berani masuk tanpa izin. Penjaga hutan itu akan marah. Jika ada mengambil sesuatu dari dalam hutan.
Pernah suatu hari, seorang pria dari desa seberang, masuk ke dalam hutan. Dia menebang pohon dan mengambil beberapa kayu disana. Tidak ada yang terjadi setelah dia keluar dari hutan. Hanya saja, pria itu tidak pernah kembali untuk menebang pohon. Menurut cerita, pria itu terkena penyakit aneh. Setelah dia sampai di rumahnya, pria itu sakit parah, badannya dipenuhi belatung, badannya bolong-bolong penuh luka, kemudian meninggal dunia.
“Hayo, kita bermain di dalam, tidak perlu takut. Penjaga hutan ini sangat baik,” teriak Sunni dari pinggir hutan, sebelum tubuhnya menghilang dibalik pohon-pohon besar.
Buni dan Wina, hanya diam membisu, mereka melihat Sunni mulai hilang dan tak terlihat lagi. Samar-samar, Buni melihat sesuatu, entah matanya yang salah melihat atau bukan. Buni melihat Sunni bersama wanita berpakaian seperti pengantin jawa, menuntun tangan Sunni masuk ke dalam hutan. Buni juga melihat, beberapa makhluk dengan wajah menyeramkan dan berbulu mengikuti wanita itu dari belakang. Wanita itu sempat melihat kearah Buni, dia tersenyum, sambil melambaikan tangannya untuk menganjak turut serta.
“Bun, kita pulang saja. Sebentar lagi, solat ashar. Kita harus belajar mengaji di surau,” tepukan keras di bahu Buni, membuatnya tersadar dari apa yang dilihatnya tadi.
“Sunni, bagaimana Win,” kata Buni.

“Nanti juga pulang sendiri, dia sudah sering main disitu. Hayo, kita pulang,” kata Wina sambil menarik tangan Buni. Buni menoleh ke belakang, hutan yang dimasukin Sunni dan wanita cantik itu, sudah menghilang. Buni, hanya lihat pohon-pohon besar yang berdiri kokoh disana.

Bersambung.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.

Fiksi Mae Rose : Cerbung – Misteri Rumah Di Tengah Hutan (Sinopsis)


Sumber foto : unknow

Sinopsis

Seorang anak bernama Sunni, dia suka sekali bermain di dalam hutan. Ketika Sunni bermain di dalam hutan, Sunni bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Wanita itu sangat baik. Dia tinggal di sebuah rumah di tengah hutan.

Hingga suatu hari, Sunni menghilang di dalam hutan. Penduduk desa berusaha mencari Sunni, dua sahabat Sunni yakni Wina dan Buni ikut serta mencari Sunni. Ketika mencari Sunni, para penduduk bertemu dengan makhluk halus berwujud manusia. Semua orang berusaha melawannya. Namun sia-sia.

Akankah para penduduk menemukan Sunni? Siapakah makhluk yang ditemui para penduduk? Apakah benar, di tengah hutan ada sebuah rumah? Ikutin ceritanya, dan kau akan menemukan semuanya di Misteri Rumah Di Tengah Hutan.

Ket : Cerita ini, di posting di aplikasi KETIK dalam rangka Sarapan Kata (Sarkat) grup KMO, dan telah diedit.