Fiksi Mae Rose : Hati Yang Luka


Sumber foto : google

Sumber foto : google

PART 1

LUKA LISA

Tepat pukul 12 siang. Aku tergopoh-gopoh berlari menuju ruang IGD salah satu rumah sakit islami di kota kembang, Bandung. Kedua tanganku mengendong gadis kecilku. Gadis kecilku yang cantik dan manis, berambut panjang sebahu. Sekujur badannya penuh luka. Darah segar menetes deras dari pelipis matanya. Wajahnya mulai memucat.

Seorang suster dengan cepat memasang alat pernapasan pada mulutnya. Tangannya mulai membersihkan pelipis mata gadis itu dengan alkhohol. Tubuh gadis kecil itu diberikan perban dan obat luka.

“Bu, anaknya akan kami masukkan ke ruang anak. Ibu silakan mengurus ke bagian administrasi. Biar kami bisa merawatnya lebih baik lagi,” aku mengangguk cepat dan segera menuju ruangan administrasi yang terletak tidak jauh dari ruang IGD.

Kukecup kening gadis kecilku. Aku tak menyangka, hari ini adalah hari naas bagi anakku. Gadis kecil yang lahir secara prematur. Gadis kecil yang hampir mati karena ayahnya sendiri. Gadis kecil yang hari ini hampir dihabisi ayahnya lagi. Hanya karena dia melindungi ibunya yang dipukul bertubi-tubi dengan kayu. Gadis kecil yang dia beri nama Sasa Agustuslisa

“Maafkan ibu nak. Ini kedua kalinya ibu tak bisa melindungimu,” ucapku pelan sambil mengusap bulir bening yang dari tadi keluar tanpa henti.

“Tak akan aku maafkan kamu mas,” ucapku dengan penuh amarah.

Awal Pernikahan

Suara pintu dibanting terdengar sangat kuat. Dan hampir membuat pintu dari kayu jati itu hampir lepas.

“Lisa…,” teriak laki-laki berperawakan tinggi langsing dari luar rumah.

“Iya mas,” kataku menyahut dengan raut muka ketakutan.

“Apa ini?” Dilemparnya kemeja yang tadi melekat di badannya. Noda kecil seperti bekas tetesan minyak itu melekat di saku bajunya yang sudah rapi disetrika.

“Kau lihat ini. Noda ini mengganggu penampilanku di kantor. Gara-gara noda ini, aku gagal meyakinkan klienku,” sebuah tamparan mendarat di pipi Lisa, diikuti hempasan baju yang dilempar kemukanya.

Aku tertunduk lesu. Sambil berjalan pelan ke kamar mandi. Mataku tak lepas melihat noda di baju suamiku, Irwan. Aku berusaha mengingat-ingat, apa yang telah aku perbuat sampai mengotori baju kesayangan Irwan. Yang aku ingat, pagi tadi sebelum baju itu dikenakan. Aku membalur minyak kayu putih ke badan. Dan itu biasa aku lakukan selepas mandi.

‘Mungkin ini noda minyak. Aku akan membersihkannya’ gumamku di dalam hati.

Tanganku dengan lincah membersihkan noda baju. Noda itupun menghilang. Tak lupa aku memberikan pewangi pakaian. Agar baju itu tidak berbau diterjen. Karena aku tahu, mas Irwan paling tidak suka jika bajunya bau diterjen. Aku paham betul, apa yang akan terjadi ketika itu sampai terjadi. Aku akan menerima pukulan. Tak hanya pukulan. Cacian dan hinaanpun akan mendarat di telingaku. Jika itu sudah terjadi, aku hanya bisa menelan ludah dan menahan tangis yang membuat sesak di dada.

Masih kuingat, awal bertemu mas Irwan. Susi, sahabat karibku mengenalkanku disaat acara ulangtahunnya. Dulu sebelum menikah, mas Irwan sangat baik dan penyayang. Tapi berbeda 180 derajat setelah ijab kabul dan pesta pernikahan usai. Aku mulai melihat perbedaannya. Mahar yang seharusnya diterima dan menjadi milikku. Diambilnya paksa. Masih terngiang diingatanku kata-kata yang keluar dari mulut mas Irwan ketika mengambil mahar.

“Mana maharnya. Mahar itu dari uangku. Kamu tidak ada hak atas uang ini”.

Aku sempat ingin mengambil dan merebut maharnya kembali. Namun dorongan kuat tangan mas Irwan ke tubuhku, membuatku terduduk diam tak berdaya di atas ranjang.

Semakin hari, ada saja alasan mas Irwan memukulku. Mulai dari rumah yang kurang rapi. Sayur yang dibilang hambar. Kopi yang terlalu panas. Sampai handuk yang lupa dibawa ke kamar mandi.

Diawal pernikahan, aku berpikir dengan memberikan seorang anak, mas Irwan akan berubah. Tapi kenyataannya justru semakin parah. Bahkan, ketika masuk 3 bulan usia kehamilan. Mas Irwan tega membawa wanita lain ke dalam rumah. Wanita yang hampir membuatku kehilangan anak di dalam kandungan. Wanita yang aku pergoki hampir berhubungan intim dengan mas Irwan. Wanita yang membuat mas Irwan menendang tubuhku dengan kencang dan tersungkur ke luar rumah. Beruntung, ada seorang tetangga melihatku dan langsung melarikan ke rumah sakit. Jika tidak, mungkin sekarang aku tinggal nama. Aku sempat koma hampir sebulan. Dokter yang menanganiku menjelaskan, benturan hebat di kepala mengenai batang otak kecilku. Sedangkan bayi diperutku, masih kuat bertahan. Dokter memutuskan menunggu usia kandunganku berusia 7 bulan. Setelah itu, dokter mau tak mau harus mengeluarkan bayiku. Demi menyelamatkan nyawaku juga.

Dari cerita mbok Rahma, pembantu yang ditugaskan merawatku di rumah sakit. Mas Irwan hanya datang untuk urusan administrasi, itupun karena takut dilaporkan warga ke polisi. Setelah itu dia tak pernah menjengukku. Kalaupun datang kembali, ketika pihak rumah sakit menelponnya untuk mencari darah untukku. Setelah itu, jangan ditanya, batang hidungnya tak pernah dia tampaknya. Bahkan ketika saatnya aku keluar dari rumah sakit. Mas Irwan tak menjemputku. Kata mbok Rahma, mas Irwan sangat sibuk di kantornya.

Sesampai di rumah, aku tak tidur di kamar mas Irwan. Aku disuruh menempati sebuah kamar pembantu di belakang dekat dapur.

Setiap malam, jika bayiku menangis. Mas Irwan akan berteriak kencang. Aku akan mengunci kamar segera. Aku takut mas Irwan akan menyakiti anakku. Aku membesarkan anakku sendiri. Aku seperti wanita tanpa suami tapi terikat dengan status pernikahan.

Hari Yang Memilukan

Shubuh ini terasa dingin. Menusuk tubuhku yang kurus. Seperti biasanya, aku membereskan sisa piring kotor yang tidak sempat dicuci mbok Rahma. Aku mencuci beberapa pakaian. Bangun sebelum adzan subuh membuat aku lebih leluasa untuk melakukan segala hal. Karena ketika jam menunjukkan pukul 6 pagi. Mbok Rahma akan datang untuk membereskan rumah dan membuat sarapan untuk mas Irwan. Semenjak aku pulang dari rumah sakit, mas Irwan tak pernah menyuruhku memasak dan membereskan rumah. Mas Irwan tak ingin melihatku. Dia seperti jijik melihat wajahku. Bahkan, hanya sekedar memberi uang bulananpun dia menyuruh mbok Rahma menghantarnya kepadaku. Aku seperti orang asing di dalam rumah suamiku sendiri. Mas Irwan masih memberiku uang bulanan, itupun hanya untuk membungkam mulutku. Karena dia takut aku akan melaporkan kejadian yang ia lakukan pada orangtuaku.

“Bu…” terdengar suara mbok Rahma dari balik pintu kamar. Aku segera keluar kamar.
“Iya mbok. Ada apa?” Kataku kemudian.
“Ini ada titipan dari bapak bu” kata wanita tua itu sambil memberikan amplop coklat kepadaku.
“Terimakasih mbok,” ucapku. Aku melihat isi amplop coklat itu. Ada kertas, tulisan tangan mas Irwan.

Kau belikan baju yang bagus buat kamu dan anakmu. Malam ini, klienku mengajakku makan malam. Dia ingin bertemu denganmu. Aku tak mau mereka melihatmu seperti tak terurus. Sebelum magrib. Kau sudah siap. Kau akan dijemput.

“Dedek Sasa, hari ini kita beli baju baru ya. Bunda sudah ada uangnya. Tapi, dedek maem dulu. Biar ga laper,” gadis kecil berambut panjang sebahu itu mengangguk senang. Dia memelukku erat, sesekali dia mencium pipiku yang tirus.

Aku segera ke dapur. Suasana hatiku hari ini sangat bahagia. Hari ini, anakku akan pergi bersama ayahnya. Aku begitu semangat hari ini. Aku akan keluar rumah. Sudah sangat lama aku tidak melihat dunia luar.

Hampir 3 tahun aku tidak diizinkan mas Irwan keluar. Selama ini jika ingin membeli sesuatu, aku hanya bisa menitipkan uang kepada mbok Rahma, dia akan membelikan beberapa kebutuhanku.

Tapi, ternyata kebahagianku siang ini tidak panjang. Baru saja aku selesai menyupai anakku dan hendak mencuci piring. Tiba-tiba aku mendapat serangan mendadak dari mas Irwan. Pukulan keras mendarat di belakang kepalaku.

Siang itu, mas Irwan pulang lebih cepat. Mobil yang dibawanya melaju kencang menuju rumah. Mas Irwan dengan wajah tampak marah dan kesal langsung menuju ke kamarku yang terletak di dapur.

“Dasar wanita pembawa sial,” teriak mas Irwan keras sambil memukul kepalaku.

Aku roboh dan terduduk di lantai dapur. Kupegang kepalaku, sakit sekali. Kulihat mas Irwan. Wajahnya tampak sangat marah, matanya memerah. Tangannya memegang sebuah balok kayu cukup besar. Mas Irwan memukulku kembali. Aku berusaha menahan dengan kedua tanganku, agar kayu itu tak mengenai mukaku.

Anakku Sasa, yang melihatku dipukul. Langsung memelukku. Kayu itu menghantam tubuh mungilnya.

“Jangan sakiti bunda,” ucapnya. “Buk,” pelipis matanya terkena pukulan. Suara tangisan terdengar pelan. Reflek tanganku menahan kayu yang hampir mendarat di tubuh anakku kembali. Mataku mulai kabur, aku hampir tidak sadarkan diri. Aku berusaha menggapai apa saja disekitarku, untuk menahan pukulan mas irwan. Aku meraih sebuah sapu yang tidak jauh dari tanganku. Aku memukul kaki mas Irwan dengan sisa tenaga yang aku miliki. Mas Irwan sempat mengaduh. Mas Irwan membuang kayu ditangannya dan mengambil kursi dapur disampingnya. Kali ini sasaranya ketubuh anakku yang sudah tak berdaya. Aku bergerak cepat, tanpa ragu aku menendang bagian vital suamiku. Mas Irwan langsung roboh.

Sambil menahan sakit di kepala dan badanku, aku mencoba berdiri dan menggendong anakku. Kulihat tubuh mas Irwan, tergeletak tak sadarkan diri.

“Mungkin aku menendangannya sangat keras sehingga dia langsung pingsan,” gumamku di dalam hati.

Sambil meraih tas kecil di kamar, aku langsung bergegas keluar rumah, membawa anakku yang merintih kesakitan. Aku berjalan sempoyongan keluar rumah. Rasa sakit akibat hantaman kayu itu membuat mataku sedikit kabur. Sehingga aku susah melihat sekeliling. Beruntung di depan rumahnya melintas seorang tetangga, pak Jono. Tanpa banyak tanya, aku dihantarnya menuju ke rumah sakit.

“Yang kuat ya nak,” ku gendong anakku menuju UGD. Suster yang melihatku, langsung membawa Sasa ke tempat tidur rumah sakit. Dipasangnya selang oksigen.

“Ini kenapa bu?,” kata suster kemudian. Aku bingung harus menjawab apa. Pikiranku sedang kalut. Ditambah melihat kondisi anakku yang bersimbah darah. Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki berpakaian putih mendekati suster dan berbisik. Suster itu mengangguk tanda mengerti, kemudian melihat kearahku. Suster itu mengobati tangan dan keningku yang sedikit robek.

“Ibu, nanti setelah ini. Ibu langsung ke kasir ya,” laki-laki berbaju putih itu menyerahkan beberapa kertas kepadaku. Sejumlah nominal cukup besar tertera di kertas putih itu.

“Bisa pakai gesek mbak?” Kataku didepan meja pembayaran. Kuambil dompetku yang sudah sedikit kusam. Kukeluarkan kartu berwarna kuning. Kartu kuning yang aku sendiri tidak tahu, apakah cukup untuk membayar jaminan perawatan anakku.

“Alhamdulillah,” ucapku lega. Setelah memastikan Sasa sudah di ruang perawatan. Aku keluar rumah sakit mencari makanan untuk menggajal perut dan minum beberapa obat yang aku tebus tadi.

“Mudah-mudahan uang tabunganku cukup sampai anakku keluar dari sini,” ucapku pelan sambil mengambil beberapa lembar uang untuk membayar makanan yang kupesan.

“Lebih baik, uang ini aku tabung. Setelah Sasa sembuh, baru aku akan membelinya baju baru,” aku bergegas memasuki ruangan bertuliskan ATM Non Tunai. Aku memasukkan beberapa uang itu ke dalam mesin. Uang baju baru anakkupun aman.

Aku keluar dari ruangan itu. Langkahku tiba-tiba terhenti di depan pintu ATM yang lain. Aku kembali masuk. Aku mengambil kartu kuning yang kugunakan tadi di loket kasir. Kutekan beberapa angka. Aku sangat kaget melihat jumlah nominal saldo di kartu itu. Tanpa pikir panjang, aku mulai mengetik sederet angka, dan berhasil terkirim ke sebuah rekening bernama Sasa Agustuslisa.

Bersambung

Ket. Cerita ini. Juga saya post di wattpadd @mae_rose_1012

Tekno Mae Rose : Games Gratis Bertema Halloween


Apa yang ada dibenakmu ketika menemukan games dengan akhiran farm? Pasti kamu akan membayangkan tanah pertanian yang berisi ladang sayur, buah dan beberapa hewan ternak. Tapi apa jadinya, jika farm itu bukan menanam buah dan berternak hewan? Melainkan hal-hal yang berhubungan dengan hallowen? Pasti kamu tak akan mempercayainya!

Sejenak, coba kamu bayangkan! Apa jadinya, jika kamu disuruh mengelola sebuah pertanian, yang semua hasil pertaniannya diluar kebiasan? Berternak hewan yang sangat aneh? Sampai mempunyai mesin produksi berbentuk sangat aneh? Apa kamu tetap mengelola pertaniannya? Salah satu diantara keanehan di games ini, yakni hewan bernama laba-laba. Iya laba-laba. Laba-laba yang biasa kita temui selalu membuat sarangnya yang cantik itu akan merubah kebiasaanya membuat sarang. Dia sudah beralih profesi menjadi tukang tenun. Pokoknya bikin kamu senyam senyum sendiri. Penasaran? Hayu, kita berburu monster.

Monster Farm

Diawal games ini, kita akan bertemu dengan bocah kecil bernama Carl. Dia akan meminta sesuatu kepadamu seperti yang dilakukan ketika perayaan hallowen berlangsung dan memberimu beberapa koin, bubuk sihir dan beberapa bintang jika permintaannya dikabulkan. Carl tidak sendiri. Dia ditemani 2 teman wanitanya yang cantik berpakaian halloween, yakni Sabrina dan Harley. Mereka akan datang, setiap waktu.

Selain 3 anak manis itu, di games ini ada juga seorang wanita

yang memakai sapu terbang yang bertugas menjual barang pertanian, penyihir wanita dan teman laki-lakinya. Mereka bertiga akan memberikan sebuah misi yang harus diselesaikan. Jika kamu berhasil kamu akan diberikan sebuah imbalan yang setimpal

Tingkat kesulitan di games ini tidak bergitu sulit. Cukup kamu mengikuti petunjuk dan cara permainannya kamu akan sangat mudah memainkannya.

Ada yang membuat saya sedikit kesal ketika bermain games ini. Susah banget untuk dapetin dua item untuk mengupgrade gudang penyimpanan yakni lempengan batu dan tali. Ett, jangan khawatir. Ada beberapa trik untuk mendapatkanya (ketawa sinis).

Cara pertama. Kamu kudu rajin membuat kue disebuah oven besar. Jika beruntung, salah satu dari dua item itu akan kamu dapatkan. Atau bisa juga, kamu memberikan beberapa hidangan untuk penyihir dan temen laki-lakinya agar mereka berdua bisa ngobrol cantik di sebuah saung. Setelah mereka selesai, mereka bakal memberikan beberapa hadiah.

Cara yang kedua. Jika kekesalanmu sudah di ubun-ubun, gunakan persedian permata yang kamu punya. Resiko terbesarnya, permatamu akan berkurang. Enggak apa-apalah, sedikit berkorban demi gudang penyimpanan. Nanti juga bisa terkumpul lagi. Jika selesai melaksanakan sebuah misi dari penyihir wanita.

Cara yang ketiga. Sepertinya halnya games farm. Monster Farm memiliki pasar yang bisa menjual dan membeli barang untuk kebutuhan farm. Kita bisa membeli beberapa item disini. Pada level 9, pasar baru bisa digunakan.

Cara yang keempat. Monster Farm, bisa dimainkan secara offline dan online. Jika kamu bermain via online menggunakan data internet, kamu bisa menggunakan fasilitas menonton videonya (semacam menonton iklan gitu). Cukup menonton videonya, dua tiga pulau terlampaui alis dapet semuanya.

Menonton video ini, kita bisa mempercepat waktu produksi menjadi selesai lebih awal, mengembalikan bubuk sihir dan yang terpenting bisa mendapatkan salah satu dari dua item itu secara sekaligus.

Oh ya sampai lupa. Digames ini, kamu akan memiliki makhluk bertanduk, dan entah siapa nama makhluk ini. Makhluk ini akan membagikan permata atau koin setiap hari.

Pemberitahuan


Hai…hai… sahabat dunia cerita dan fiksi. Maaf ya jarang ngepost. Miminnya lagi males 😁

sumber : google.com

Oh iya. Fiksi mae rosenya nih, bakal dipindahin ke wattpad. Tapi, jangan khawatir masih bakal diposting disini juga sih kalau ceritanya pendek, atau ada lomba cerita online.

Jika kamu mencari di wattpad, tinggal ketik mae_rose_1012.

Selamat bertemu wattpad. Terimakasi

Puisi Mae Rose : Pertarungan Nyawa


Cuaca siang siap menggigit

Menggigit tubuh yang menahan sakit

Hawanya yang membara

Mengusik jiwa yang bersandar sambil mengusap perutnya

Tangannya yang kecil menahan perut yang meronta

Perut yang mulai bertingkah

Perut yang mulai membuatnya terlihat payah

Perut yang mulai berontak untuk melihat dunia yang fana

Suara lengkingan sirine memecahkan langit kota

Memekakkan telinga yang dilewatinya

Teriakan dan tarikan nafas beradu cepat

Dibalas dengan suara tangisan yang berbunyi kencang dan lembut

Senyum manis tersungging indah diwajahnya

Diikuti ucapan selamat tinggal dari pemilik perut yang telah tiada

Cileunyi, 25 Oktober 2018

Fiksi Mae Rose : Cermin – Piano Keramat


Bunyi dentingan piano kembali terdengar. Malam ini, aku kembali terbangun. Entah sudah berapa kali aku terbangun dari tidurku. Malam ini, aku akan mencari tahu. Siapa yang memainkan piano mahal itu. Kubawa paralon yang tersambung kayu. Kuhidupkan semua lampu di rumah ini. Mataku tertuju ke piano di dekat meja kerjaku. Tak ada yang aneh.

“Mungkin, aku terlalu capai bekerja. Aku harus tidur, besok aku harus bangun pagi” kataku pelan sambil menutup mulutku yang sedang menguap.

Baru saja kakiku menaikin satu anak tangga. Tiba-tiba, suara piano itu berbunyi. Ku balikkan badanku. Aku terdiam sesaat. Badanku terasa diguyur air es. Aku tidak percaya apa yang baru saja aku lihat. Piano itu mengeluarkan suara. Nyanyian yang dimainkannya persis seperti yang kudengar setiap malam.

Seorang wanita cantik. Tiba-tiba mendekat kearahku. Menarikku dan dia mengajakku berdansa. Aku menikmati wajah cantiknya. Wajahnya putih pucat. Dia mulai tersenyum kepadaku.

“Wajahmu sangat cantik,” kataku singkat.

Tiba-tiba, wajahnya yang tersenyum menatapku sangat tajam.

“Blesss,” kurasakan nyeri di dadaku. Kulihat sebuah pena sudah menancap hebat di dadaku. Darah segar mengalir deras. Pipa paralon yang kupegang tadi menopangku berdiri. Dengan susah payah aku berdiri. Aku berusaha menggapai pintu depan rumahku. Suara cekikikan wanita itu semakin kencang, diiringi teriakannya yang semakin memekakkan telingaku.

“Kau rasakan Anton. Mati kau…mati,”

***

“Pak Luc, sadar Pak Luc,” sayup kudengar suara lembut Rani, Sekretarisku.

“Pak Lucky. Kemarin, pak Lucky sudah keperingatkan. Jangan membeli piano di tempat pelelangan barang atik itu. Piano itu, bukan piano biasa. Piano itu benda keramat, piano itu sengaja dilelang. Karena pemiliknya dulu, adalah seorang wanita yang pernah dibunuh oleh teman selingkuhannya dan mayatnya disimpan di dalam piano”.

Cileunyi,19-9-2018

Ket : Cermin ini diikut sertanya dalam event cermin FP Coretan Pena Daniel.

Fiksi Mae Rose : Cerpen – Miringnya Sang Mercusuar


Sumber : google.com

Pagi ini, kudengar kabar. Ada anak yang hilang ketika berenang di pantai didekat rumahku. Anak yang tenggelam adalah anak pramuka yang kemping di sana. Dan mereka mandi disekitar mercusuar.

“Ade anak ilang dekat mercusuar. Kate e die kesedot ke bawah mercusuar,” kata tetanggaku pagi ini.

Sudah sejak lama kudengar. Mercusuar itu meminta tumbal. Mercusuar itu, satu-satunya lampu yang berada di pantai itu. Dia sebagai pelita bagi nelayan dan kapal yang kebetulan melewati pulau kami yang kecil. Mercusuar itu sudah berdiri sejak zaman dahulu kala. Zaman Jepang tepatnya. Kudengar dari cerita orangtuaku, mercusuar itu tempat pembuangan mayat. Tempat eksekusi tahanan perang. Mereka dibunuh disana. Dan lebih seram lagi, kata orang-orang di daerahku. Jika mercusuar sudah miring. Maka bersiaplah, dia akan meminta tumbal untuk kembali tegak.

“Dek,” jantungku langsung berdebar hebat. Pria disampingku menepuk pundakku. Aih orang ini, apakah tidak bisa menyapa orang dengan lembut. Apa dia tidak lihat keadaan disekeliling mercusuar ini tegang dan menyeramkan.

“Iya, ada apa?” Jawabku sedikit ketus.

“Maaf…maaf…,” pria itu langsung pergi.

“Pria aneh” gumamku pelan. Terdengar suara tangisan didekat kerumuman itu. Suara seorang wanita menangis kencang.

“Ngapelah nak, kau berenang. La mak pade, janganlah kau cube berenang kalau kau kemping deket pantai ni,”

Suara mobil ambulan meraung hebat. Anak yang telah ditemukan itu dibawa ke rumahnya. Semua orang yang melihat mayat tadi, langsung membubarkan diri. Halaman mercusuar kembali sepi kembali.

“Cube kau lihat!, menara e tegak,” kata perempuan tua disampingku.

“Ooo aok, benar kate awak. Kemaren ku tengok menara tu agak miring. Sekarang lah tegak die. Tande e menara tu la makan tumbal. Kanak tu lah tumbal e,” timpal teman perempuan tua itu. Aku yang mendengarnya mengecitkan dahi. Sambil mataku melihat menara mercusuar. Bukannya kondisinya sama saja miring. Apanya yang tegak. Pikirku di dalam hati.

Malam ini, aku seperti biasanya. Duduk manis didekat jendela di kamarku. Kamarku kecil. Tapi, aku sangat menyukainya. Kamar ini, sebenarnya adalah kamar darurat. Orangtuaku sengaja membuat kamar ini, untuk menghindari banjir rob. Karena biasanya setiap musim air laut pasang. Air bisa masuk ke rumah. Bahkan rumahku pernah kebanjiran karena air laut terlalu naik ke darat. Dan yang paling aku sukai jika tidur di kamar ini. Aku bisa melihat lampu dari menara mercusuar itu. Terlihat jelas.

Kutatap mercusuar itu dari kamarku. Tak ada yang berubah. Posisinya masih miring, seperti menara pisa di prancis pikirku. Tapi, mengapa mereka bilang menara itu tegak jika ada yang kebetulan meninggal?

“Ase,nak ikut dak?” Teriak bapak dari bawah.

“Ikut pak?” Jawabku. Malam ini bapak mau mengajakku ke menara. Kata bapak, malem ini jatah bapak menjaga menara. Kalau enggak dijaga, kadang ada beberapa anak muda yang masuk. Mereka, sering membawa minum minuman keras. Mereka juga kadang suka mencoret dinding menara. Dan sering meninggalkan botol minuman keras itu dibangku taman. Malah, kata bapak kadang ada beling yang berserakan. Jika tak dibersihkan, nanti kena pengunjung yang ingin duduk di taman dekat menara.

“Kau tunggu disini dulu. Bapak mau ambil senter di pos. Sekalian bapak mau kunciin pintu pagarnya,”

Menara ini sepi. Yang jaga juga cuma 2 orang. Bapakku dan pak Supratman tetanggaku.

“Ikut Se? Ga takut ikut bapakmu. Nanti ada penampakan loh,” ah pak Supratman selalu menggodaku jika aku ikut menjaga menara. Aku tak terlalu sering ikut bapak. Karena besok hari libur, aku ikut bersama bapak. Menjaga menara ini. Itupun tidak ikut bergadang, biasanya sekitar jam 9 aku mulai mengantuk.

“Ni, otak-otak. Makan di dalam pos. Jaketnya dikancing. Dingin. Bapak patroli dulu”

“Pak, aku boleh ikut patroli juga?” Kataku kepada bapak. Bapak mengangguk tanda setuju. Sambil mengunyah otak-otak. Kuikuti langkah bapak dari belakang. Aku baru menyadari, kalau kaki bapak sangat besar. Pantas saja, setiap kali bapak mendapat sepatu dari kantor tak ada yang muat di kakinya. Kaki bapak besar. Aku tertawa kecil. Otak-otak di plastik sudah habis. Sekarang tenggorokanku haus. Mau balik lagi ke pos. Lampu disini tidak begitu terang. Ah kutahan saja sebentar.

Sudah berjalan begitu lama, mengapa belum sampai juga di pos. Biasanya hanya sebentar. Apa karena tadi aku berjalan perlahan sambil makan otak-otak ya? Jadi terasa belum sampai. Hai, siapa itu? Kulihat ada seorang wanita di taman dekat menara. Mungkin itu penjual di luar menara. Dia tersenyum kepadaku. Dipegangnya tangan kecilku.

“Makanlah,” ucapnya ramah. Kulihat banyak otak-otak di atas meja taman. Tak hanya otak-otak, di meja juga ada mie goreng kesukaanku. Kebetulan sekali, aku lapar. Kuambil semua makanan. Dan kuletakkan diatas piring dengan motif seperti piring yang dipajang ibu di dalam lemari. Piring almarhum nenek. Piring Belanda kata ibu.

Pagi yang dingin.

Suara manusia yang ribut, terdengar jelas ditelingaku. Apakah sudah pagi? Kubuka mataku perlahan. Cahaya matahari pagi, menyilaukan mataku.

“Pak, tu Ase deket sumur,” teriak salah seorang warga yang tampak ku kenal.

“Ya Allah, Se. Tadi malem kau kemane? Kamik becarek keleleng? Beputar-putar menara kamik nyarik awak? Rupe kau tiduk diatas sumur ni?”

Di atas sumur? Kulihat tubuhku memang di atas penutup sumur tua di dalam menara. Tapi, bukannya malam tadi. Selepas aku makan dengan kenyang. Aku dihantar wanita itu ke rumah. Aku merasa aku tidur di atas ranjangku yang empuk. Hah, apa ini? Balok kayu? Bukankah tadi malam aku memeluk boneka kelinci yang biasa kubawa tidur? Berarti tadi malam? Siapa wanita itu?

“Kurase, anak awak ni tadi malam. Dibunyik hantu wanite belande penghuni sumur tu pak As. Make e, tadi malam kite dak ketemu-ketemu” kata salah satu warga yang berdiri disamping bapak.

Cileunyi, 21 September 2018

Fiksi Mae Rose : Cermin – Salah Kedondong


Sumber : google.com

Suara gaduh terdengar dari halaman depan rumah bu Surti.

“Pah, pah bunyi apa itu?” Kata ibu Surti membangunkan suaminya yang tertidur lelap.

“Paling kucing bu,” kata suaminya sambil melanjurkan tidurnya kembali.

“Enggak mungkin kucing”. Pikir bu Surti. Bu Surti akhirnya memberanikan diri melihat dari balik jendelanya yang kusam. Bu Surti melihat ada yang bergerak. Bu Surti langsung mengambil sapu didekat pintu.

“Awas kamu, kalau maling. Saya bikin bonyok,” kata bu Surti sedikit emosi.

“Krek” suara pintu dibuka pelan-pelan. Bu Surti mulai menganyunkan sapunya.

“Kena kau,” teriak bu Surti girang.

“Ampun bu, ampun. Saya Mirna. Tadi kaki saya kejepit batu. Mau minta tolong, suara saya enggak keluar. Untung ibu gebukin punggung saya, kalau enggak.” Kata Mirna sambil nunjukin buah kedondong yang penuh dengan air liurnya.