Cerita Mini Mae Rose : Tak Sedingin Malam


Semua orang memakai baju hangat yang tebal malam ini. Mereka bilang, cuaca malam ini sangat dingin. Bisa menggigil jika kau tidak menggunakan baju hangat.

Tapi, aku tak merasakan kedinginan. Baju hangat yang kukenakan sudah kulepas. Seluruh badanku terasa hangat. Aku merasa nyaman. Rasa ngantuk mulai menghampirku. Mataku mulai terpejam. Tiba-tiba, rasa dingin yang teramat sangat menjalar keseluruh tubuhku. Suara teriakan sayup-sayup terdengar.

“Bakar sampai gosong. Biar pencuri itu kapok”.

Cileunyi, 24 Mei 2019

Cerita ini juga diposting digrup Komunitas Penulis Facebook Indonesia dengan tema #dingin

Cerita Mae Rose : Ramadhan Hari ke 5


Perjalanannya masuk hari ke 5. Perlahan tapi pasti akan berakhir di hari ke 30.

Di hari ke 5. Aku belajar memekakkan telinga. Telinga yang setiap hari mendengar kicauan burung pemakan daging. Pemakan daging sodaranya sendiri

Kenapa tanpa bosan, mulut selalu mengomentari hidup seseorang? Kenapa pula, mata dan telinga kalian layaknya cctv yang selalu memantau gerak gerik seseorang?

Ah, entahlah.

Terkadang kita lebih sok tahu untuk urusan orang lain dibanding mengurusi diri sendiri! Terkadang kita lebih percaya telinga kita ketika ada kabar kabur yang datang. Tak pernah kita menahannya dulu. Seperti kata pepatah lama.

“Cukup pecah di perut jangan di mulut”

Cileunyi, 10 Mei 2019

Cerita Mae Rose : Puasa Ramadhan


Sumber : google.com

Hari ini, menginjak hari ke dua. Banyak makanan yang tersaji, mulai dari kolak, es buah, sirup sampai menu makan yang lumayan wah. Alhamdulillah puasa tahun ini masih bisa menikmati nikmatnya puasa.

Oh ya, apa keinginanmu di bulan suci ini? Apakah ada sesuatu yang kamu harapkan? Smoga berkah ramadhan menaungi kita semua.

Selamat Berpuasa.

Salam

Mae Rose

Cerpen Mae Rose : Surti


sumber : google.com

Judul : Surti

Penulis : Rosa Linda

Cileunyi, 17 Oktober 2018

Garis kuning bertuliskan kata polisi itu mengelilingi pagar rumah mertuaku. Rumah yang kutempati bersama anak-anakku. Entah sejak kapan garis polisi itu ada disana. Para tetangga dan warga di dekat rumah berkumpul memenuhi halaman rumah. Aku berjalan perlahan sambil mendorong sepeda mini tuaku menuju rumah kediamanku. Aku terkejut melihat dua kantong jenazah berada di teras rumah.

***

Suara gaduh terdengar jelas dari kamarku. Terdengar suara laki-laki dan perempuan yang beradu mulut. Terdengar juga suara mengaduh dan meringis kesakitan. Kukunci pintu kamarku. Kusuruh kedua anakku tidur siang ini. Biar mereka tak mendengar keributan hebat itu.

Tak berapa lama, kudengar suara orang menendang pintu garasi. Ku intip dari balik jendela kamar. Kulihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar keluar dari garasi.

“Besok, aku kembali lagi kesini!” Teriaknya kencang dan bernada tinggi. Ku amati orang yang keluar dibalik jendela kamarku yang buram. Wajahnya tanpa senyuman. Wajahnya sangar, berkulit sawo matang. Tampak sekilas wajahnya seperti berlubang. Rambut pendek seperti tentara menambah kesangaran yang tampak diwajahnya. Apakah dia preman? Atau penagih hutang? Jantungku berdegub kencang. Kuambil cepat gawaiku. Dengan cepat kukabari suamiku yang bekerja di luar kota. Prihal kejadian di rumah.

“Iya, hati-hati” hanya sesingkat itu setiap kali aku mengabari prihal yang terjadi di rumah. Tak ada kata yang bisa membuatku tenang.

Aku tinggal bersama seorang kakak perempuan suamiku. Namanya Surti. Surti memiliki empat orang anak dari suami yang berbeda. Surti sudah bercerai dengan suami keduanya. Surti mengurus dua anaknya yang beranjak dewasa, laki-laki dan perempuan. Dua anaknya baru duduk di bangku sekolah kelas tiga SMP. Dua anak dari suami pertama sudah menikah dan bekerja di luar negeri menjadi tkw.

Rumah mertuaku sangat besar. Ada empat kamar disini. Satu kamar tak berpenghuni, dijadikan dapur oleh Surti. Aku menempati kamar paling depan, kamar yang bisa melihat keluar rumah. Kamar tengah ditempati anak laki-laki Surti. Sedangkan Surti dan anak perempuannya menempati kamar dekat dengan dapur.

Pernah suatu pagi, ketika aku menghidupkan air. Aku memergoti dirinya berbicara sendiri di garasi. Kepulan asap rokok dari mulutnya memenuhi seisi garasi. Dia berbicara seolah-olah ada orang yang duduk didepannya. Kopi dan makanan kecil dihadapannya dia tawarkan kepada dinding yang dia ajak bicara. Ketika dia tersadar aku memperhatikannya. Dia langsung keluar garasi dan pergi entah kemana. Benar-benar kurang waras. Dia selalu meracau jika diajak bicara soal kehidupannya. Dia akan berkata kalau dia itu kaya. Dia mengaku punya ilmu membaca pikiran dan bisa melihat makhluk halus. Bahkan dia bilang, dia adalah keturunan putri dari sebuah kerajaan.

Beberapa bulan ini. Banyak yang datang ke rumah menagih hutang kepadanya. Pernah suatu hari, ada seorang wanita muda datang kepadaku. Dia menagih hutang Surti kepadaku. Memaksaku melunasinya. Wanita itu mencaciku karena tidak mau melunasinya. Dan aku hampir memukulnya dengan paralon.

Setiap aku keluar rumah, tetangga selalu bertanya apa yang terjadi di rumah. Beberapa warga di sekitar rumahkupun selalu bercerita kepadaku tentang Surti yang hobi ngutang kerentenir dan beberapa warga didekat ku tinggal. Mereka bilang hutang Surti sangat banyak. Hhh, kepalaku seperti mau pecah jika sudah mendengar cerita Surti dari para warga itu.

Kulirik jam dinding di kamarku. Jam sudah menunjukkan pukul 01:37. Malam ini sangat dingin. Satu cangkir kopi hitam yang kuminum, membuat mataku tetap terjaga. Ditambah pristiwa tadi siang masih memenuhi otakku.

‘Bruukk’

Suara orang menabrak garasi. Pasti itu anak laki-laki Surti. Dia memang selalu pulang larut malam. Sudah terlalu sering dia pulang malam. Beberapa warga melihatnya sering nongkrong di ujung jalan bersama anak-anak dari kampung sebelah yang doyan mabuk. Surti tak pernah melarang ataupun memarahinya. Pulang selarut apapun tak pernah dipedulikan Surti. Anaknya memang baru duduk di bangku sekolah kelas tiga SMP. Tapi, umurnya sudah seumuran anak SMA. Anaknya malas sekolah dan sering tidak naik kelas.

Pernah suatu ketika aku bertanya kepada suamiku. Mengapa anak-anaknya Surti tidak diurus oleh mantan suami Surti yang kaya? Suamiku bilang, mantan suaminya tidak mau mengakuinya. Surti menjadi istri kedua dari seorang pengusaha. Dia diceraikan tanpa sepengetahuannya. Yang kudengar dari suamiku, dia diceraikan karena suaminya ketahuan telah menikahi Surti. Rumah dan mobil mewah semua disita istri pertama suaminya. Dia dan anaknya ditelantarkan tanpa tempat tinggal dan uang. Dan kurasa, itu alasan mengapa Surti kelihatan sedikit tidak waras.

Mataku mulai mengantuk, kubiarkan saja keributan kecil di luar kamarku. Keributan yang sering terjadi jika anak itu pulang. Ibunya akan mengomel tak tentu arah. Dan akan berakhir dengan bantingan pintu garasi.

***

Suara deringan gawaiku membangunkanku. Sepagi ini, siapa yang menelponku? Kuambil gawai yang tak jauh dari ranjang. Paman menelpon. Segera kuangkat. Paman memintaku menemani bibi pagi ini. Paman ada urusan ke Jakarta. Paman, meminta menemani istrinya. Dia takut istrinya kerepotan jika ditinggal sendiri. Istrinya sedang proses penyembuhan. Salah satu kakinya mengalami pembengkakan. Satu minggu yang lalu, baru selesai menjalankan operasi. Pamanku seorang kontraktor. Dia sering berpergian untuk mengurusi bisnisnya.

“Iya paman, setelah mengantar Alisha sekolah. Saya langsung ke rumah paman,” jawabku.

Secepat kilat pagi ini, kubereskan pekerjaan dapur. Kubereskan kamar tidur. Dua anakku sudah aku mandikan. Kukanyuh sepeda tuaku mengantar Alisha ke sekolah.

“Nanti, jangan langsung pulang ke rumah. Tunggu di sekolah nanti ibu akan menjemputmu. Pulang sekolah kita ke rumah kakek,” pesanku kepada Alisha. Alisha anak pertamaku. Dia anak yang penurut dan tak pernah sekalipun dia melanggar apa yang kuperintahkan.

“Ya ampun. Pompa sepeda lupa aku bawa. Aku harus pulang dulu,” kukanyuh sepedaku kencang. Anakku yang kedua, yang kugendong dengan gendongan kangguru tertawa riang. Mungkin dia tertawa karena sepeda yang kubawa sangat kencang.

Sesampai di rumah. Kubuka pintu kamarku. Segera kuambil pompa sepeda yang tertinggal. Tiba-tiba hidungku mencium bau alkohol. Bau yang sangat kuat dan menyengat dari kamar tengah, kamar anak laki-laki Surti. Rupanya anak itu sudah berani minum barang haram itu di rumah. Buru-buru kuambil pompa sepeda di kamar. Secepat kilat pula aku mengunci kamar dan keluar rumah. Aku tak ingin bertemu anak Surti yang sedang mabuk.

Baru setengah jalan, kulihat pria yang kemarin datang ke rumah. Kuhentikan sepedaku, untuk memastikan dia ke rumah atau tidak. Untunglah, dia tidak berbelok ke arah rumah. Kukanyuh lagi sepedaku kencang. Menuju rumah bibiku yang tidak begitu jauh dari sekolah anakku.

Siang yang mengigit, Pukul 12 : 30

Empat pria tegap dan sangar menggunakan dua motor matic menuju salah satu rumah warga. Mereka tampak tertawa senang. Mereka adalah penagih hutang. Mereka menertawai seorang perempuan yang berlari tergopoh-gopoh menuju ke rumahnya.

“Surti, lari yang kencang” teriak salah satu pria itu dari atas motor. Surti semakin cepat berlari. Surti tersungkur di depan pintu garasi. Surti kalah cepat. Pantat Surti ditendang salah satu pria itu.

“Sudah ngutang, enggak mau bayar,” bentak laki-laki bertubuh besar dan gendut.

“Belum ada uangnya,” teriak Surti membela diri.

“Dari kemarin, bilang ga ada uang. Sudah setahun lebih, kamu enggak bayar-bayar. Klo ga punya uang jangan ngutang. Udah angkut semua barangnya, jangan ada yang tersisa. Jon, lu telpon bos. Minta dikirimi mobil kesini” kata pria tinggi dan tegap itu.

“Hai, apa yang kamu lakukan. Itu tv punya orangtuaku,” teriak Surti sambil mempertahankan tivi di ruang tengah agar tidak diangkut.

“Mesin cuci di depan kamar mandi itu punya iparnya. Jangan diangkut. Kemaren iparnya ngeredit di toko abang iparku,” kata pria pendek dengan otot besar dan bertato dikedua tangannya.

“Kamar lu yang mana Surti?” teriak pria tinggi dan tegap itu.

Surti masih sibuk mempertahankan tivi yang akan diangkut, dia tidak mempedulikan bos penagih hutang bertanya kepadanya. Satu tarikan keras dari pria pendek berotot dan bertato membuat Surti hampir mencium rak tivi, Surti tersungkur di lantai. Tivi orangtua Surti berhasil dibawa penagih hutang. Anak perempuan Surti, yang berada di kamar langsung menutup pintu pelan-pelan. Namun suara pintu tertutup itu terdengar salah satu pria penagih hutang. Pintu kamar ditendang sangat keras. Pintu kamar hampir copot dari engselnya. Suara merintih kesakitan terdengar. Surti berusaha berdiri. Dia menuju kamarnya dengan meringis menahan sakit. Surti berhasil melindungi anaknya yang hampir dipukul penagih hutang. Surti kembali mempertahankan barang-barang miliknya di kamar. Anak perempuannya menangis dan berusaha mengambil laptop dari tangan pria tinggi dan tegap itu. Dia berusaha menggigit tangan pria yang mengambil laptopnya. Tapi sayang, badannya yang kecil tak sepadan dengan pria yang dilawannya. Dengan sekali tepis, anak Surti terpental kedinding kamar. Suara rintihannya kembali terdengar.

Seisi rumah berantakan. Seluruh perabotan tidak ada yang tersisa. Kursi dan meja yang semula tersusun rapi diruang tamu dan tengah tidak ada lagi. Semua diangkut para pria penagih hutang. Terdengar suara isakan tangis Surti dan anak perempuannya. Meratapi pristiwa yang baru saja terjadi.

“Bu…, suara berisik apa ini” tiba-tiba terdengar teriakan anak laki-laki Surti dari kamar tengah. Dia keluar kamar dengan rambut dan baju yang acak-acakan. Ditambah bau alkohol yang menyengat hidung.

“Minta uang!” Teriak anaknya kencang. Surti yang melihat kondisi anaknya mulai meradang.

“Minta uang!” Teriak anaknya lebih keras dan hampir meninju muka Surti. Surti yang sudah meradang langsung memukul anaknya dengan sapu plastik didekatnya. Anaknya yang sedang dibawah pengaruh alkohol melawan Surti. Ditahannya sapu plastik itu. Dilemparnya sapu plastik itu ke muka Surti. Sambil mulutnya mencaci maki Surti.

“Dasar wanita simpanan,” wajah Surti tampak marah. Tanpa sepatah kata, Surti langsung memukul punggung anaknya dengan kursi plastik secara membabi buta. Anaknya yang mabuk langsung roboh tidak bergerak. Darah segar mengucur dari kepalanya.

Anak perempuan Surti, berteriak histeris melihat tubuh kakaknya sudah terkapar dan berdarah. Surti yang terlihat panik, langsung memukul anak perempuannya dengan sisa potongan kursi plastik ditangannya tanpa ampun. Melihat anak perempuannya yang dipukulnya masih bergerak, dia mengambil panci di dapur. Dipukul kepalanya anaknya hingga tewas.

Tetangga sebelah rumah langsung datang ke rumah Surti karena mendengar keributan hebat. Tetangga sebelah rumah tampak kaget melihat kondisi rumah. Dan langsung menelpon polisi.

“Aku bunuh mereka. Aku bunuh mereka,” teriak Surti sambil tertawa diikuti suara tangisan Surti.

Suara sirine polisi dan ambulan bersautan nyaring. Mengundang para warga berdatangan. Tampak beberapa orang polisi memasukkan tubuh anak Surti ke kantong jenazah. Tangan Surti diborgol. Sesekali terdengar dia masih mengoceh sendiri.

“Bukan aku yang membunuh mereka. Dia,” Surti menunjuk dinding garasi yang sering dia ajak berbicara.

“Karma,” kata salah satu warga.

“Iya bu, itulah akibat jadi simpanan. Perebut suami orang,” timpal ibu berbaju daster.

***

“Ran, Hari ini kamu tidur disini dulu. Udah mau magrib,” kata pamanku.

“Ga paman. Hari ini, suamiku pulang. Ga enak kalau aku enggak ada di rumah,” kataku menolak tawarannya. Kumasukan buah tangan pemberian paman ke dalam keranjang sepeda miniku. Kuucapkan kata pamit untuk pulang, sambil kucium tangan bibi dan paman.

Kukanyuh sepeda miniku yang sedikit bergoyang. Kupelankan kanyuhan sepeda miniku. Takut sepedaku lepas dari bautnya.

“Nanti sampai di rumah. Alisha ganti baju. Magrib nanti ibu anter ke rumah ustadzah Erna, ngaji,” kataku kepada Alisha dibelakang sepeda. Diikuti kata iya dari mulut Alisha.

Sesampai di gang rumah mertuaku. Kulihat banyak kerumunan warga. Mobil polisi dan ambulan terparkir tepat di depan rumah mertuaku. Kudorong sepeda miniku menuju ke rumah.

“Permisi” ucapku diantara kerumunan warga. Kulihat suamiku berdiri di depan pintu. Dia menyuruhku mendekat. Dia memelukku dan anak-anakku. Anakku Alisha yang senang melihat ayahnya pulang langsung minta digendong.

“Ada apa mas?” Tanyaku.

“Mas juga ga tahu. Mas baru sampai. Kita masuk ke kamar. Biar anak-anak tenang.” Kulihat banyak darah dilantai ruang tengah. Banyak serpihan kursi plastik berserakan. Kulihat kursi plastik anakku tak utuh lagi, hancur. Sofa, kursi dan meja makan, tivi, meja dan perabotan rumah tak kulihat lagi di ruang tengah, kosong. Apa ini ulah penagih hutang kemarin? Kulirik mesin cuci di samping kamar mandi. Masih terlihat sama seperti kutinggal pagi tadi.

“Maaf pak, istri bapak bisa kami ajak bicara?” Seorang polisi wanita mendatangiku. Polisi wanita itu bertanya banyak hal, termasuk kemana aku pergi dari pagi sampai sore. Akhirnya aku mengerti, apa yang sebenarnya terjadi di rumah. Kakak perempuan suamiku, Surti. Membunuh kedua anaknya tadi siang.

 

Cerita Mae Rose : Hanya Status Di FBku


Sumber : koleksi mae rose

Bagi kalian yg diperteman saya, baru putus cinta. Ingat kalian hanya pacaran, masa depan kalian masih panjang.

Kata seorang ustd. Mencintai seseorang itu cukup 10%, sisakan ruang logikamu lebih banyak agar bisa berpikir jernih. Ketika kau harus kehilangannya, dan memudahkanmu untuk menapaki hidup.

Bersyukurlah ketika kehilangan. Karena Tuhan menyangimu. Karena Tuhan sayang, makaNya dia mengajarimu arti berpisah. Berpisah dengan orang yang mungkin saja, membuatmu jarang di rumah. Padahal ibumu sangat mengkhawatirkanmu dan berharap kau bisa menemaninya sejenak dirumah.

Jika kau bermaksud menamatkan cerita hidupmu. Hendaklah dia tamat dan berhenti dari pena Tuhan. Bukan dari seorang wanita, yang jika kau game over. Menangisimu tidak, bahkan besok. Mungkin dia sudah bisa tertawa kencang.

Tapi, yang menangisimu adalah orang selalu menatap punggungmu pergi keluar bersama pacarmu. Wanita yang senantiasa berdoa dan selalu membelai kepalamu setiap kau bertingkah. Wanita yang keesokan harinya, setelah menghantarmu masih menatap foto-fotomu yang dia simpan rapi.

Sebelum kau pergi, mengakhiri cerita hidupmu. Coba kau pandang wajah ibumu sejenak. Walaupun hanya beberapa menit. Pandangi dan lihat senyumnya yg tersembunyi. Apakah kamu tega, merubah senyumnya menjadi senyuman kesedihan yang panjang?

Cileunyi, 27 Februari 2019
Catatan Mae Rose

Puisi Mae Rose : Rindu Tak Bertepi


Sumber : google.com

Langit senja mengecup mesra

Membuat pipi merona jingga

Suara angin menyapa pelan

Dibalas sautan hujan dengan tangisan

Wajah langit bermuram durja

Menghilangkan rona cantik pemilik senja

Senja menghilang tanpa kata

Diikuti sautan sang pemilik senja

Ragu hati mengungkap rasa

Menoreh luka berkalang duka

Hadir rindu bersemai di dada

Menambah sesak rasa yang dirasa

Andai bumi bisa berprosa

Dia akan mengukir kisah dengan nada duka

Kisah merindu seperti Laila

Rindu yang tak kisah kapan usainya

Cileunyi, 21 Januari 2019

(Dibuang sayang. Puisi ini dibuat untuk tugas kolaborasi)

Cerita Mae Rose : Bermula Dari Lomba Akhirnya Jadi Narablog


sumber foto : tirto.id

Menulis adalah jiwa. Mungkin itu sebagian yang orang katakan jika dia sudah “menggila” dengan dunia menulisnya.

Menulis memang bagi saya suatu hal yang sangat baru. Tapi, dari sanalah saya menemukan banyak teman, banyak ilmu dan yang pastinya saya bertemu dengan orang-orang hebat yang sangat mahir dalam dunia tulis menulis.

Awal menulis di blog, sekitar tahun 2000-an. Tak banyak yang saya tulis di blog. Mengikuti sejumlah lomba blog yang selalu gagal (sedihnya 😆😆😆😆), berpindah diberbagai platform blog, sekmen blog yang tidak jelas sampai akhirnya saya konsisten dengan blog saya yang satu ini. Ya, blog bernama catatanmae. Berisikan dunia fiksi, tulisan pribadi dan beberapa informasi teknologi.

Diawal menulis, saya tidak begitu mementingkan apa yang ditulis. Saya hanya menulis dan menulis. Tidak begitu peduli apa yang orang dapatkan dari membaca tulisan saya dan apa yang disukai orang di dalam tulisan yang saya posting. Yang penting bagi saya menulis saja itu sudah cukup. Jika tulisan saya tidak disukai, itu terserah mereka yang membaca. Hingga sampai akhirnya, saya mengikuti sebuah lomba blog yang diadakan TIK.

Disanalah saya baru menyadari bahwa tulisan saya ternyata bisa dinilai secara detail. Penilai dalam lomba ini, termasuk yang sangat saya sukai. Karena, saya bisa melihat kekurangan tulisan saya seperti apa. Melalui persentase nilai yang diumumkan, saya jadi tahu seberapa layak tulisan saya disebut tulisan. Saya jadi tahu apakah tulisan saya menginspirasi atau tidak, bisa dipahami atau tidak sampai apakah tulisan saya memang layak untuk dibaca atau tidak. Saat itu, nilai akhir lomba itu tidak begitu besar, hanya sejumlah 72. Dan tentu saja, tulisan saya tidak menang. Tapi dari sanalah saya bertekad harus menulis lebih baik lagi.

Sekarang menulis di blog bukan sekedar mengikuti lomba saja. Saya ingin, apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Ada kepuasaan tersendiri ketika melihat statistik tulisan diblog. Melihat tulisan hasil karya sendiri selalu dibaca para pengunjung blog.

Menulis sendiri sebuah tulisan di blog, bisa dilakukan oleh siapa saja, dimanapun dan kapanpun. Boleh dikatakan secara tidak langsung, kita menjadi seorang narasumber sebuah berita atau informasi di blog sendiri atau biasanya sering disebut narablog.

Banyak ide yang bisa menjadi bahan tulisan. Mulai dari berita terhangat, berita yang sedang viral sampai hal-hal kecil yang mungkin menurut kita sepele tapi ketika dibaca, tulisan itu sangat bermanfaat.

Namun, yang harus jadi catatan didalam menulis di blog. Kita tidak boleh asal menulis sebuah informasi atau berita. Kita harus bijaksana dalam menulis segala informasi yang akan kita sajikan.

Ada beberapa saran yang bisa kamu jadikan poin penting untuk memulai menjadi seorang narablog di blog kamu sendiri.

1. Riset sebelum diposting.

Walaupun kita seorang blogger, kita tetap harus melakukan riset. Apalagi jika tulisan itu mengulas yang berkaitan dengan suatu bidang. Riset sangatlah penting dilakukan, agar tulisan yang ditulis bernilai positif.

Riset bisa kita lakukan dimana saja, bahkan melalui ponsel kita bisa melakukannya. Dengan banyak membaca diberbagai media online tentu banyak informasi yang bisa kita ambil dan dijadikan ide tulisan nantinya.

2. Hindari Konten Hoax.

Ini sangat penting. Informasi yang kita dapatkan setelah melakukan riset hendaklah kita sortir kembali. Karena informasi yang kita dapatkan terkadang sering kali banyak yang tidak sesuai kenyataan.

Perbanyak cek dan ricek terhadap informasi yang didapat. Misalnya dengan mencari beberapa sumber yang tepat, jelas dan bisa dipercaya keaslian dan kebenarannya.

Ingat loh, jika kita menyebarkan berita hoax. Berarti kita menjadi orang yang mempelintir sebuah informasi. Boleh dikatakan kita penyebar informasi bohong dan harus dipertanggungjawabkan.

Sumber foto : Ris.Legal

3. Tunjukan gaya bahasamu sendiri.

Banyak sekali para blogger yang saya temui mempunyai gaya bahasa tulisan yang menarik. Ada yang serius sampai yang kocak.

Awal menulis, saya masih mengikuti gaya menulis seseorang. Tapi, seiring waktu saya menemukan gaya menulis saya sendiri. Jadi, kalau diawal menulis masih meniru, menurut saya sah-sah saja. Asal jangan dijadiin kebiasaan dan keterusan. Kamu harus bisa menemukan gaya menulis yang bikin kamu nyaman.

4. Percantik blogmu agar menarik.

Setelah menulis panjang lebar. Tugas akhir menulis adalah mereview sejenak tulisan sebelum dipublish. Lihat, apakah tulisanmu ada yang salah atau tidak? Baik kesalahan ketikan, salah ejaan dan lain-lain.

Jika dirasa tidak ada yang salah. Itu saatnya tulisanmu diposting. Hmm, tapi coba lihat lagi isi tulisanmu! Apakah isinya hanya sederet kata dan kalimat alias terlihat polos? Jika iya, tak ada salahnya menambahkan gambar pendukung tulisan. Karena biasanya gambar pendukung, bikin menarik pembaca untuk melihat dan membaca seluruh isi tulisanmu.

Itulah beberapa saran saya yang mungkin bisa membantumu menjadi seorang narablog di blog kamu sendiri. Selamat menulis 😊😊😊😊.